Kamis dalam Pekan Biasa IX, 6 Juni 2013

Tb 7: 9-17   +  Mzm 128  +  Mrk 12: 28-34

 

 

 

Lectio :

          Ketika itu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."

Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

 

 

Meditatio :

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu; dan hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri', tegas Yesus. Inilah hukum paling utama, dan 'tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini'. Penegasan Yesus ini diberikan kepada seorang ahli Taurat yang mempertanyakan keberadaan aneka hukum. Dia merasa tahu adanya banyak peraturan dan hukum, tetapi tentunya ada satu dua hukum yang mengatasi semua hukum, yang menjadi referensi bagi hukum-hukum lainnya.

Jawaban Yesus sungguh benar; dan ahli Taurat itu mengaminiNya. 'Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan'. Mengasihi Tuhan memang harus diutamakan dari segala, karena memang Dialah sang Empunya kehidupan, dan hendaknya hanya Tuhan Allah yang harus disembah dan dimuliakan, karena memang Dialah sang Penguasa. Perhatian kepada kuasa-kuasa lain malah akan meleleahkan diri dan melemahkan hidup, karena memang aneka kuasa itu amat temporal. Mereka bukannya membantu, malahan amatlah korup. Hanya Tuhan Allah yang abadi.

Cinta kepada Tuhan yang tidak kelihatan itu, mau tidak mau, harus diwujudkan dalam cinta dan perhatian terhadap sesama. Bagaimana mungkin seseorang mengatakan mempunyai kepandaian, tetapi dia tidak mampu dan tidak berani mengungkapkan kepandaiannya itu dalam karya sehari-hari. Kepandaian tidaklah cukup dibenamkan dalam-dalam benak seseorang. Demikianlah, seseorang yang mengatakan cinta kepada Tuhan, tetapi tidak mampu mewujudkannya dalam cinta dan perhatian terhadap sesama, minimal sebagaimana dia mengasihi dirinya sendiri. Kiranya pembelajaran Yesus tentang pemisahan kawanan domba dan kambing kelak di akhir jaman (Mat 25) dan kisah seorang Samaria yang baik hati (Luk 10) menantang kita untuk berani berbagi kasih terhadap sesama.

Cinta kepada Tuhan memang tidak cukup ditampakkan dalam aneka kegiatan ritual yakni dalam bentuk-bentuk peribadatan, tetapi juga hendaknya dinyatakan dalam aneka kegiatan sehari-hari. Kiranya hendaknya menjadi perhatian kita hari ini adalah fokus Yesus sendiri yang meminta kita melakukan semuanya itu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan, sebagaimana kita melakukan segala sesuati untuk diri sendiri. Kita selalu membuat segala sesuatu baik dan nyaman untuk diri kita sendiri; demikianlah yang hendak kita buat terhadap sesama kita.

 Cinta kepada Tuhan  dan kepada sesama memang saling mengandaikan satu dengan lainnya. Yin yang.  Bagaimana mungkin seseorang dapat mencintai Tuhan, bila dia tidak menaruh kasih terhadap sesamanya. Peribadatan tanpa perhatian terhadap sesama tak ubahnya sebagai pelarian diri seseorang dari kenyataan hidup, apalagi bila dia memang sudah mapan hidupnya. Siang malam seseorang dapat tinggal dalam rumah-rumah ibadat dan mengalunkan aneka doa dan pujian, tak dengar olehnya tangisan lirih seorang bayi atau nafas seseorang yang tersengal-sengal. Sebaliknya, dia yang aktif dalam karya sosial, tetapi tidak pernah menimba kekuatan dari sang Empunya kehidupan, dalam hitungan waktu akan merasa kering dan mati. Dia telah memberi dan memberi, tetapi tidak mengisi diri, kosong dan matilah.

 

 

Oratio :

 Tuhan Yesus, kami ingin mengasihi Engkau dengan segenap hati dan segenap jiwa, tetapi semuanya itu terasa ketika kami merasakan keamanan diri, sebagaimana dialami oleh seseorang yang kaya yang hendak menikmati hidup kekal. Bantulah kami, ya Yesus, dengan terang Roh KudusMu, agar kami selalu merindukan kehadiranMu.

KehadiranMu menyelamatkan, ya Yesus.

 

 

 Contemplatio:

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu'. 

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening