Kamis dalam Pekan Biasa X, 13 Juni 2013


2Kor 3: 4-11  +  Mzm 85  +  Mat 5: 20-26






Lectio :

Suatu hari berkatalah Yesus: 'Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.   Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.  Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.   Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'.





Meditatio :

Apa yang dikatakan Yesus dalam Injil kemarin, bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab-kitab para Nabi, melainkan untuk menggenapinya, terbukti nyata dalam pengajaranNya hari ini.

Pertama, jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Namun Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum. Sebab kemarahan memang adalah akar dosa dari dosa-dosa yang  lebih besar lagi. Kemarahan yang dibiarkan terus-menerus berkembang akan berujung pada pembunuhan. Pembunuhan tidak akan terjadi, bila memang akar dosa, yakni kemarahan, dicabut dan ditiadakan.

Kedua, barangsiapa berkata kepada saudaranya: kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.   Pengucapan kata jahil memang tak jarang sekedar teguran kepada sesama, yang telah bertindak tidak sesua dengan kemauan diri. Pengucapan kata ini juga seringkali menunjukkan ketidakmampuan diri kita menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan diri. Ketidakmampuan diri yang tidak tertahankan akan berlanjut pada kemarahan, yang memang tidak melahirkan situasi damai. Kata-kata umpatan keras dan sulit dimengerti : kafir, adalah kondisi mendekati puncak kemarahan dan pelecehan terhadap sesama, yang merendahkan mereka sebagai orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Meremehkan sesama tidak berbeda jauh dengan perlawanan terhadap kehendak dan kasih Tuhan, sang Empunya kehidupan.

Ketiga, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Perdamaian adalah pemutusan untaian persoalan yang berkepanjangan dan akan membawa sengsara bagi diri sendiri. Perdamaian membawa jiwa kita terasa aman dan nyaman. Cinta kepada Tuhan yang kita ungkapkan dengan persembahan di altar kudus, haruslah diimbangi dengan sikap cinta kepada sesama, dengan berani berdamai dengan lawan.

Kedatangan Yesus yang ingin menggenapi atau pun menyempurnakan hukum Taurat dan kitab para Nabi benar-benar terpenuhi. Pendalaman dan penyelesaian akar persoalan sungguh-sungguh tepat sasaran. Setiap muridNya diminta Yesus untuk bersikap dan bertindak seperti itu. Keberanian setiap orang untuk menyelesaikan akar  persoalan hidup menjadi ciri khas seseorang dalam kematangan pribadi. Ini bukan permintaan, sepertinya malahan sebuah tuntutan yang diberikan Yesus kepada para murid, kepada kita semua.  Hal itu tidak dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi; karena itu Yesus berkata:  'Aku berkata kepadamu:  jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'.





Collatio :

Kita ini mudah mengucapkan kata-kata indah, tetapi tak jarang kosong dalam perbuatan.
Inilah ucapan seorang Santo, yakni Antonius dari Padua. Seorang Santo yang terkenal dalam menyampaikan khotbah. Banyak orang bertobat karena pengajarannya; bahkan ikan-ikan di danau bermunculan untuk mendengarkan khotbahnya, kata sebuah legenda suci.

Ucapan Antonius hari ini mengingatkan Injil hari ini agar kita mempunyai daya tarik untuk membawa orang kepada Allah, dan bukannya seperti kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Pengajaran yang dibawakan Yesus yang memang selalu membuka wacana baru menarik perhatian banyak orang. Dia ini mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa, komentar banyak orang terhadap Yesus. Sebaliknya, yang menuduh Yesus meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi adalah mereka kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Selama kita mengajarkan dan mewartakan kasih, pewartaan akan banyak menarik banyak orang, dan mereka terbawa untuk semakin memuliakan Bapa di surga.



Oratio :
Ya Yesus, Engkau memang membaharui hukum Taurat dengan semangat cinta kasih. Cinta kepada Allah dan sesama manusia. Ajarilah kami, ya Yesus, untuk semakin setia menyelesaikan pergolakan jiwa dengan hati damai.
Yesus, bantulah kami menjadi orang-orang yang sabar dan penuh pengertian.
Santo Antonius, Doakanlah kami. Amin.




Contemplatio :

'Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum'.










Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening