Kamis dalam Pekan Biasa XII, 27 Juni 2013


Kej 16: 1-12  +  Mzm 106  +  Mat 7: 21-29



Lectio :

Yesus berkata kepada para muridNya: 'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.  Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. 
Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.




Meditatio :

'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga'.
Pengenalan manusia terhadap Tuhan sang Empunya kehidupan, bukannya bergantung pada kemampuan menyebut namaNya, dan bahkan berseru-seru dalam namaNya, melainkan pada keberanian seseorang untuk melakukan kehendakNya. Sebab memang apalah artinya seseorang dapat menyebutkan sebuah nama, tetapi dia tidak mau melakukan sesuatu. Apalah artinya seseorang mengatakan bisa melakukan semuanya itu, bila memang dia hanyalah seorang yang 'berbulu domba', sebagaimana kita renungkan beberapa hari lalu.

Pujian dan doa kita terasa hampa memang, bila tidak berdasar pada kasih Tuhan sendiri. Oleh karena itu, Yesus pun menambahkan: 'kalau pun pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu, tetap Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!'.

Kebaikan terhadap sesama memang amatlah baik dalam kebersamaan hidup, tetapi  tidaklah bisa menjadi ukuran bagi Allah atau bahkan memaksaNya  menyelamatkan kita. Keselamatan dalam Allah tidak bergantung pada kebaikan umat manusia, melainkan merupakan hak Tuhan Allah sepenuhnya. Mereka diusir oleh Allah, karena dalam melakukan kebaikan terhadap sesama, masih menyempatkan diri melakukan kejahatan. Melakukan kejahatan itu tidak sesuai dengan kehendak Allah. Melakukan kebaikan yang sesuai dengan kehendak Tuhan sungguh-sungguh terjadi, bila semua kebaikan hati kita persembahkan kepada Tuhan sang Empunya kehidupan, dan kita selalu berpantang diri dan tidak membuka celah-celah untuk melakukan kejahatan sedikitpun. Inilah repotnya mengikuti Yesus Kristus. Yesus meminta kita mengasihi Dia dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa, dengan segenap akal budi dan kehendak kita.

Bagaimana mungkin semuanya bisa terjadi? Mereka melakukan yang baik, dan berbagi kasih, tetapi masih mencari kesempatan diri untuk mendapatkan kepuasan diri, yakni dengan melakukan kejahatan. Melakukan kejahatan berarti seseorang melawan kehendak dan kemauan Tuhan. Tuhan menginginkan semua orang hanya melakukan yang baik dan benar. Tak dapat disangkal, seseorang mampu melakukan nubuat, mengusir setan dan mengadakan mukjizat, karena memang Tuhan Yesus melimpahkan anugerahNya tanpa memandang muka. KasihNya diberikan secara cuma-cuma kepada setiap orang, bagaikan Dia menurunkan hujan bagi orang baik dan jahat, dan sinar matahari bagi semua orang tanpa terkecuali. 

Sejarah Perjanjian Lama pun mencatat bahwa Allah tetap menaruh perhatian kepada Hagar, orang Mesir itu. Hagar, yang sempat melawan dan merendahkan Sara, inang pengasuh rumatangga Abraham, tetap mendapat kasih karunia dari Tuhan sendiri (Kej 16). Kelemahan dan keterbatasan umat manusia tidak menjadi perhitungan kasih Tuhan kepada umatNya, malahan tak jarang Allah berkarya melalui mereka untuk membuka karya keselamatanNya yang terus-menerus diperbaharuiNya. Orang-orang yang hanya pandai berseru-seru Tuhan, Tuhan, tetapi tidak melaksanakan kehendak Bapa di surga, berarti dia hanya mengenal Tuhan sebatas pengetahuan dan akal budi saja. Dia mempunyai iman hanya sebatas kata dan pengetahuan, tanpa adanya penjabaran dalam perbuatan dan tindakan sehari-hari. Yesus menambahkannya dengan mengatakan: 'ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya'. Iman tanpa perbuatan akan melemahkan dan membuat jenuh seseorang dalam menghayatinya.

Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. Yesus selalu membuka wacana baru bagi orang-orang yang mendengarkan sabda dan kehendakNya. 




Oratio :

Ya Tuhan Yesus, perbaharuilah selalu iman kepercayaan kami kepadaMu, agar kami tidak mudah hanya berseru-seru akan namaMu, melainkan terlebih-lebih kami menjadi ahli-ahli yang melakukan kehendakMu. Sebab hanya kehendakMulah yang menyelamatkan kami, dan bukannya kebaikan dan jasa-jasa kami. Amin.




Contemplatio :

'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga'.










Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening