Rabu dalam Pekan Biasa IX , 5 Juni 2013

Tb 3: 1-11   +  Mzm 25  +  Mrk 12: 18-27

 
 
Lectio :
Pada suatu waktu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."
Jawab Yesus kepada mereka: "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!"
 
 
Meditatio :
'Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu', tanya orang-orang Saduki yang tidak mempercayai adanya kebangkitan.  'Ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia'. Pertanyaan mereka amat logis; karena memang berdasar kenyataan itulah, mereka tidak dapat mengerti atau pun membayangkan bagaimana dengan ketujuh laki-laki. Bagaimana posisi ketujuh laki-laki itu di hadapan seorang perempuan itu, yang memang pernah menjadi isteri mereka masing-masing.
Apakah ketujuh laki-laki yang dimaksudkan kaum Farisi itu adalah Sara, sebagaimana diceritakan dalam kitab Tobit (bab 3)? Perempuan yang bernasib malang ini tetap mengarahkan hati dan budinya kepada Allah. Dalam kesusahan dan kesedihan, dia tetap berpikir jernih dan mampu memandang sekeliling hidupnya. Dia tidak mau mempermalukan orang lain, karena sikap dan tindakannya yang kurang bijak.
'Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga', sahut Yesus. Entah kenapa Yesus menuduh mereka sesat? Bukankah mereka bertanya? Bukankah mereka bertanya berdasar pengalaman riil sekarang ini? Bukankah Yesus juga belum pernah menceritakan realitas surgawi atau pasca-kebangkitan? Bukankah mereka itu memang orang-orang yang tidak percaya akan kebangkitan? Syukurlah mereka berani bertanya. Apakah kesesatan mereka itu hanya diakibatkan karena tidak percaya akan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci? Pemahaman Marta bahwa kelak di akhir jaman akan terjadi kebangkitan (Yoh 11 24) menunjukkan adanya kebangkitan telah menjadi pemahaman bagi masyrakat.
'Tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup'. Penyataan Yesus hendak menegaskan bahwa di hadapan Allah semua orang itu hidup. Kematian memang akan terjadi pada diri setiap orang, karena memang itulah kodrat insani setiap ciptaan, tetapi berkat kebangkitan sang Anak Manusia, semua orang hidup di hadapanNya. Kematian telah dikalahkan oleh kebangkitan Kristus, Putera Tunggal Bapa.  
'Kamu benar-benar sesat!', tegas Yesus. Teguran Yesus ini langsung mengarah pada ketidakpercayaan mereka akan kebangkitan. Yesus sama sekali tidak menerangkan dan tidak memberikan rincian tentang relasi antar mereka yang kelak menikmati kebangkitan. Yesus tidak pernah menjelaskan realitas surga secara detail. Tak dapat disangkal memang, Yesus memang pernah menjelaskan di rumah Bapa itu ada banyak tempat tinggal (Yoh 14) atau pun seperti akan terjadinya pemisahan antara kawanan domba di sebelah kanan dan kawanan kambing di sebelah kiri (Mat 25), tetapi bagaimana relasi mereka satu sama lain dan perilaku konkrit mereka, tidaklah pernah diterangkan.
 

 
Oratio :
 Terimakasih, ya Tuhan, atas Sabda Mu pada hari ini, Engkau kembali mengingatkan pada kami, bahwa kematian bukanlah akhir hidup, melainkan sebuah permulaan hidup baru. Biarlah dalam kehidupan keseharian kami dimampukan untuk mempunyai kerinduan memasuki janji kehidupan kekal, amin.
 

 
 Contemplatio:
'Di masa kebangkitan orang mati, orang tidak kawin dan dikawinkan, mereka hidup seperti malaikat di surga'.
 
 
 
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening