Selasa dalam Pekan Biasa XI, 19 Juni 2013


2Kor 8: 1-9   +  Mzm 146  +  Mat 5: 43-48

 

 

 

Lectio :

Pada suatu hari berkatalah Yesus kepada para muridNya: 'kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna'.

 

 

Meditatio :

'Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu'.

Seperti halnya mata ganti mata, dan gigi ganti gigi, demikianlah hukum cinta kasih dalam Perjanjian Lama ini. Adalah hal yang wajar dan lumrah memang, dan dapat dimengerti secara nalar, untuk mengasihi sesama manusia dan membenci musuh. Namun bagaimana mungkin harus mempertemukan minyak dan air? Air haruslah kita pertemukan dengan air, dan minyak juga dengan minyak. Kiranya hukum kohesi (kecocokan) dan adesi (perlawanan) dalam kebersamaan hidup tetap ada di mana-mana.

'Tetapi Aku berkata kepadamu', pinta Yesus kepada para muridNya, 'kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu'. Kita diminta untuk tidak hanya mengasihi dan menaruh perhatian terhadap sesama, yakni mereka yang mengasihi kita, yang bersikap baik kepada kita, yang banyak membantu kita, yang tidak melawan kita, yang satu hobi dan satu profesi, satu komunitas doa, sama-sama alumni pete, melainkan juga mengasihi orang-orang yang memusuhi dan menantang kita, dan yang tidak sepaham dengan kita.

Mengapa harus mengasihi mereka juga?  'Karena hanya dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar'. Tidak ada alasan lain, mengapa dan mengapa. Yesus hanya menekankan satu alasan ini. Kita tidak boleh cukup bangga menyebut diri sebagai anak-anak Bapa di surga, atau sebagai saudara dan saudari Kristus, sang Empunya kehidupan, tidak cukup bangga dengan gelar dan sebutan yang kita terima, melainkan semuanya itu harus diungkapkan nyata dalam sikap dan tindakan, seperti yang dilakukan oleh Bapa sendiri.

Inilah sikap kontemplatif! Seorang kontempaltif adalah seseorang yang bersikap seperti Tuhan sendiri bersikap dan bertindak. Seorang kontemplatif tidak cukup hanya mampu melihat kehadiran Tuhan, dia malahan berani memandang Tuhan Allah yang hadir dan meraja itu, dan membiarkan diri ada selalu dalam kehadiranNya, dan menikmati kehadiranNya. Dia hadir dan menggerakkan hidup kita ini, dan dengan jujur mengatakan: bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus Tuhan yang hidup dalam diriku.

Sungguh tidak layak kita menyebut diri anak-anak Bapa di surga tetapi tidak melakukan kehendak dan kemauan sang Empunya kehidupan ini. 'Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?'. Harus ada kelebihan dan keunggulan dari orang-orang yang mengenal Allah daripada mereka yang tidak mengenalNya. Lebih baik, dan juga tidak akan menjadi beban hidup, kita tidak menyebut diri sebagai anak-anak Bapa di surga, bila memang tidak ada kemauan untuk bersikap dan bertindak seperti Bapa di surga. Kita saja disebut seorang pembohong besar, bila mengaku diri pandai memasak rawon, sop merah atau na niura, tetapi ternyata kalang kabut ketik diminta menyebutkan aneka macam bumbu untuk membuat ketiga menu tersebut

'Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna'. Inilah perintah Yesus yang sungguh-sungguh berat.

 

 

Collatio :

Adakah kemampuan kita manusia untuk melakukan kehendak Yesus Tuhan? Yesus berbicara dan meminta umatNya demikian, karena Dia tahu siapakah kita.

'Kalau Gereja di Makedonia saja selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan; mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka; apalagi kamu kaya dalam segala sesuatu, dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami, demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini'. Inilah permintaan Paulus kepada orang-orang Korintus, yang juga tentunya ditujukan kepada kita, yang telah banyak menerima segala yang indah dan baik dari Tuhan. Menurut rumusannya, Paulus tidak berkata-kata seperti Yesus, supaya kita sempurna seperti Bapa di surga, tetapi tidak dapat disangkal, pelayanan kasih yang dimintanya, itu tak ubahnya, adalah kasih yang diberikan Bapa kepada kita umatNya, yang memberikan hujan bukan hanya kepada orang-orang yang baik dan benar, melainkan juga kepada mereka yang jatuh dalam dosa dan sesat. Sebagaimana Aku telah mengasihi engkau, demikianlah hendaknya kamu saling mengashi.

Kita memang bukan orang-orang Makedonia, tetapi kita terpanggil oleh Tuhan Yesus yang menyelamatkan seluruh umat manusia.

 


 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau meminta kami menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Engkau meminta kami untuk tidak hanya bangga dengan aneka gelar dan sebutan indah yang kami terima, tetapi tidak mampu melaksanakannya. Maka bantulah kami dengan rahmat Roh KudusMu, agar kami semakin mampu menghayati panggilan dan tugas perutusanMu. Amin.

 

 

 Contemplatio:

'Bapa yang di sorga menerbitkan matahari, bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening