Selasa dalam Pekan Biasa XII, 25 Juni 2013


Kej 13: 5-18   +  Mzm 15  +  Mat 7: 6.12-14
 



 
 
Lectio :
Pada suatu hari berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya: 'jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu. Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya'.
 
 
Meditatio :
'Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu'. Penegasan Yesus ini mengajak kita untuk menyampaikan segala sesuatu sesuai dengan kondisi dan arah yang tepat. Barang-barang suci, ya baiklah, kita gunakan secara tepat dan benar. Demikian juga dalam penyampaian ayat-ayat kitab suci haruslah bijak dalam menyatakannya. Tak jarang memang kepada seseorang mengalami kesulitan dalam aneka persoalan, dengan mudahnya kita menghantam dia dengan ayat-ayat kitab suci; alhasil, bukannya dia bertobat dan mendekatkan diri kepada sang Empunya kehidupan, malahan semakin berbalik melawan sang Sumber kehidupan.
'Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka'. Jikalau kita menghendaki orang lain berbuat baik kepada kita, kita hendaknya berbuat baik terhadap mereka. Hendaknya kamu mendahului memberi hormat (Rom 12: 10).  Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Walau tak dapat disangkal, kita tidak mampu menyangkal seseorang membalas kebaikan kita itu. Kita harus berani menerima kenyataan hidup. Kita harus siap memanggul salib kehidupan, sebagaimana kita renungkan Minggu kemarin.
Kiranya kemurahan hati akan menjawab segala persoalan hidup. Abram yang telah menjadi kaya dan telah berusia mampu tetap bertindak bijak dengan menunjukkan sikapnya yang rendah dan murah hati. 'Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri', kata Abrahm kepada Lot keponakannya (bab 13). Dia mendahulukan Lot untuk memilih mana yang terbaik bagi dirinya, baru kemudian sisanya menjadi bagian dari Abram. Abram tidak minta didahulukan, karena merasa diri lebih senior dan berpengalaman, melainkan mendahulukan mereka yang lebih muda. Tentunya malahan kaya akan pengalaman membuat dia semakin bijak dalam hidupnya. 'Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga', sabda Tuhan. Barangsiapa menabur sedikit akan menuai sedikit, barangsiapa menabur banyak akan menabur banyak pula (2Kor 9: 6). Itulah yang dinikmati juga oleh Abram; dia bukannya mendapatkan balasan dari Lot keponakannya, melainkan dari Tuhan Allah sang Empunya sejarah kehidupan ini.
'Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya'. Hasil jerih payah memang amatlah berharga daripada sekedar uluran tangan belaskasih orang lain. Demikianlah dalam mengejar keselamatan, kita diminta menyangkal diri dengan tidak mengikuti hawa nafsu dan kepuasan diri. Kita diminta untuk berjalan di padang gurun kehidupan, dan bahkan di malam gelap yang begitu pekat.
 
 
 
Oratio :
Ya Yesus Kristus, ajarilah kami berani memberi seperti Engkau yang mendahului kami dalam mengasihi. Berkat kasihMu itu, kami diselamatkan.
Jiwailah kami dengan kasihMu, ya Yesus, sebab dengan memberi kami menerima, dengan mencintai kami dicintai, dan dengan mati suci, kami bangkit dan hidup kembali. Amin.
 
 
 Contemplatio:
'Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan'.
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening