Senin dalam Pekan Biasa IX, 3 Juni 2013

Tb 2: 2-8   +  Mzm 112  +  Mrk 12: 1-12

 

 

 

Lectio :

Pada suatu waktu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.

Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh.

Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain.

Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita." Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

 

 

Meditatio :

Perumpamaan memberikan gambaran tentang orang-orang yang tidak tahu terima kasih. Mereka diberi kesempatan untuk berkarya di kebun anggur, tetapi tidak mau bekerja sebagaimana yang telah ditentukan. Egoisme diri yang hendak mencari menangnya sendiri malahan ditonjolkan. Keserakahan dan kerakusan, yang tidak tahu diri, dikedepankan dalam kebersamaan hidup. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan Saduki, tua-tua bangsa Yahudi dan ahli-ahli Taurat. Sebaliknya, itulah juga resiko hidup yang dialami oleh para Nabi dan HakimNya dalam menjalani tugas perutusan dan panggilan hidupnya, dan itulah yang dialami oleh Yesus Kristus Tuhan yang hadir di tengah-tengah umatNya.

Inilah realitas hidup. Itulah realitas yang dihadapi Allah dalam mengasihi umatNya; dan tak jarang dalam pengenalan akan Allah, kita dihadapkan dengan aneka peristiwa seperti itu. Kiranya perumpamaan hari ini meminta kita untuk tidak  mudah luntur dalam berbagi kasih, dalam mengemban panggilan hidup. Kecewa dan jengkel adalah hal yang wajar dan lumrah, tetapi hendaknya tidak kita berlanjutkan dalam aneka sikap dan tindakan hidup kita, seperti dengan putus asa dan marah. Bila kita sempat putus dan marah, maka menanglah mereka dan kita sebagai orang-orang yang kalah. Bila kita tegar berdiri teguh, tak ubahnya kita tidak ikut menari dan tertawa sendiri, bila ada seorang yang sakit jiwa menari-nari di depan kita.

Terlebih-lebih Yesus, sang Isa Al Masih itu, yang dilawan dan ditentang, yang ditolak dan diusir, yang didera dan disiksa, yang disuruh memanggul salib dan disalibkan, tak ubahnya bagaikan 'Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita'. Yesus sengaja dibiarkan mengalami demikian oleh Bapa di surga, karena memang itulah kenyataan yang ada dalam diri umatNya. Inilah program keselamatan dari Allah yang ditawarkan kepada semua orang, tanpa ada paksaan sedikitpun dari sang Empunya kehidupan. Penolakan umat manusia terhadadp prgram keselamatan, tidak menghentikan maksud baik Allah. Allah sengaja membiarkan umatNya bersikap dan bertindak apa adanya. Allah tidak membuat umatNya merunduk di hadapanNya tanpa berkata-kata, karena memang tidak ada pilihan, melainkan Dia hanya mengundang dan mengundang setiap orang tanpa terkecuali untuk datang kepadaNya. Yesus adalah Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, oleh orang-orang yang seharusnya mampu menempatkan Yesus dalam hidupnya. Mereka adalah orang-orang pandai dan bijak, mereka adalah tukang-tukang bangunan, tetapi semua yang luhur dan mulia itu tidak diindahkannnya. Semuanya terjadi dari pihak Allah, karena Allah membiarkan aliran hidup manusia berjalan sebagaimana adanya.

Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Mereka bukannya bertobat, malahan sebaliknya hendak membinasakan Yesus. Teguran Yesus memang menantang kita untuk bertobat, dan bukan sebaliknya. Yesus menegur, karena memang banyak orang sudah bertindak melampaui batas, dan jatuh dalam dosa. Benarlah memang, lebih baik ditegur oleh sesama, daripada ditegur oleh Allah. Teguran oleh Allah seringkali terasa berat dan sakit.

Perumpaan hari ini berbeda total dengan pengalaman seorang Tobit. Diceritakan dalam pelbagai pengalaman hidupnya: Tobit itu lebih takut kepada Allah dariada kepada raja (Tob 1-2). Dia tidak takut melakukan segala sesuatu, sejauh semuanya, yang dilakukan itu, sesuai dengan kebenaran, sesuai dengan kehendak Tuhan Allah. Bagaimana bila dalam sejarah perjalanan manusia, ternyata banyak orang lebih bersikap seperti Tobit? Adakah program keselamatan tetap akan dilaksanakahan sesuai dengan kehendakNya? Adakah perubahan total? Adakah sang Anak Manusia tetap menjadi Batu Penjuru, dan malahan akan ditata sedemikian rupa oleh para tukang bangunan, karena Dia sungguh-sungguh luhur dan mulia? Adakah kebun anggur itu tetap akan dipercayakan kepada orang-orang lain?

 


Oratio :

Ya Yesus Kristus, Engkau Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, karena kerakusan dan kecerobohan mereka dalam hidup ini. Bantulah kami, ya Yesus, agar tidak mudah tergoda oleh mereka, tetapi malahan sebaliknya kami berani menjadikan Engkau sebagai Batu Penjuru kehidupan kami.

Santo Karolus, doakanlah kami. Amin.

 

 

 Contemplatio:

'Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru'.

 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening