Senin dalam Pekan Biasa X, 10 Juni 2013



2Kor 1: 1-7  +  Mzm 34  +  Mat 5:  1-12





Lectio :

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:  "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.  Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.  Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.  Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.  Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.



Meditatio :

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.  
Orang yang miskin di hadapan Allah adalah mereka yang mengandalkan kekuatan dari Allah. Mereka tak kunjung henti meminta dan meminta bantuan daripadaNya. Mereka merasa tak berdaya, dan mereka merasa bahwa dalam Tuhan, mereka dapat melakukan segalanya dengan baik. Karena mereka meminta dan meminta kepadaNya, maka harta benda ilahi yakni KerajaanNya diberikanNya juga kepada mereka. Merekalah akhirnya yang mempunyai Kerajaan Surga.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.  
Hanya orang-orang yang berduka akan mendapatkan penghiburan, karena memang mereka berani meratap dan mengeluh kepada Tuhan. Kedukaan mereka mengundang belaskasih Allah, sebagaimana kita ingat peristiwa di Nain, yang kita renungkan di hari Minggu kemarin.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 
Ucapan Yesus ini mengingatkan kita akan pengalaman seorang Ayub, seorang yang lemah lembut dan rendah hati. Tuhan yang memberi dan sekarang Tuhan yang mengambil, terpujilah Dia selama-lamanya. Berkat kesetiaan dan kesabarannya dalam menanggung cobaan hidup, akhirnya dia semakin menjadi orang yang bergelimpangan harta benda, seakan-akan dunia dan segala isinya menjadi miliknya sendiri.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Belaskasih Allah akan menggenapi segala segala kerinduan seseorang akan segala hal yang luhur dan mulia. Kebenaran itu berasal dari atas, sebab memang segala yang indah dan mulia berasal dari Atas, yakni dari Dia sang Empunya kehidupan.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. 
Mereka dipuji bahagia karena memang mereka mau bersikap sebagaimana Allah sendiri bersikap. Mereka berusaha bersikap murah hati sebagaimana Allah sendiri murah hati, yang memberi hujan kepada semua orang tanpa terkecuali, tanpa memandang muka. Kalau dia bersikap murah hati sebagaimana Allah sendiri, maka tentunya kemurahan hati Allah akan mereka nikmati dalam keseharian hidup mereka. Itulah yang dinikmati Paulus sebagaimana dikatakan dalam suratnya yang kedua hari ini kepada umat di Korintus. Kemurahan hati inilah (bab 1) yang pada akhirnya dinikmati oleh orang-orang yang mengikutinya.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. 
Orang yang suci hati adalah mereka yang mengkondisikan diri untuk menerima dan mengalami kehadiran Allah. Mereka berusaha sekuat mungkin untuk berpantang dan menyangkal diri dari keinginan dan nafsunya yang teratur. Sebab hanya kemurnian jiwa dan kesucian hati membuat orang berjumpa dan memandang Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.  
Kedamaian dan sukacita memang akan sungguh-sungguh terjadi bila setiap orang saling mengasihi satu sama lain. Kasih yang selalu memberi dan memberi, dan bukannya menuntut atau memaksa orang lain untuk mengikuti kemauan diri. Bila kita saling mengasihi satu sama lain, sungguh nyatalah bahwa kita adalah anak-anak Allah, saudara dan saudari Yesus Kristus sendiri.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 
Mereka mendapatkan peneguhan dari Tuhan Yesus, karena memang mereka berhadapan dengan dunia, yang lebih suka akan kegelapan daripada terang. Anak-anak terang selalu akan mendapatkan tantangan dan perlawanan dari dunia yang selalu mencari kepuasan diri. Tak jarang fitnah dan cela akan ditimpakan juga kepada mereka. Karena itu Yesus menambahkan 'berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat', dan siapa yang bertahan sampai akhir, dia akan beroleh selamat. 'Berbahagialahdan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu'.



Oratio :
Ya Tuhan Yesus, Engkau memuji bahagia orang-orang yang merindukan kehadiranMu. Bantulah kami selalu agar setia tabah dalam menghadapi aneka tantangan, sebab tak jarang kami ini mudah putus asa bila keinginan kami tidak dipuaskan. Kami tidak sabar untuk segera mendapatkan belaskasih dan cintaMu, kami malahan mau berontak kepadaMu.
Yesus, rahmatilah kami selalu.



Contemplatio :

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.











Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening