HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DARI GUNUNG KARMEL

16 Juli 2013

Yoh 19: 25-27

 

 

Lectio :

Di dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Kleopas dan Maria Magdalena.  Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"  Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

 

 

Meditatio :

Di dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Inilah orang-orang yang setia mendampingi Yesus. Mereka berani menerima kenyataan bahwa sang Guru, yang mereka percayai dan mereka ikuti, hari ini harus tergantung pada kayu salib. Para murid, banyak yang melarikan diri, tidak berani menerima kenyataan. Perasaan kecewa dan takut memang tak jarang  membuat seseorang tidak berani menghadapi kenyataan, tetapi tidaklah demikian demikian mereka yang selalu bergembira dan berhura-hura.

Siapakah dari ketiga perempuan itu yang paling setia? Tentunya Maria, sang bundaNya. Dia adalah seorang ibu yang setia. Dia yang dahulu dengan setia menanti kehadiranNya dari surga, kini dia juga harus mendampingi dengan setia Dia yang akan kembali ke surga dengan mulia. Memang Dia kembali ke surga mulia melalui jalan salib dan turun ke tempat penantian, tetapi tidaklah demikian ketika Dia datang ke dunia, walau tak dapat disangkal Dia datang tanpa diketahui oleh banyak orang, kecuali oleh sang bunda yang setia mendampingNya.

Di mana pun Yesus berada, sang bunda setia mendampingiNya. Maria menghantar dan membopong Sang Putera ke tempat pengungsian. Maria dengan setia menghantar ke Yerusalem, dan bahkan harus berjalan kembali untuk kedua kalinya, karena Sang Putera tertinggal di bait Allah. Dengan setia Maria mengingatkan akan keterlibatan dalam hidup bersama, ketika terjadi persoalan dalam pesta di Kana. Dia pun harus menjumpai Sang Putera, ketika banyak orang menyebarkan issue bahwa Sang Putera tidak waras lagi. Dalam perjalanan salib, Maria dari dekat pun melihat dan menyapa Sang Putera, yang sedang memanggul salib. Maria sudah tahu semenjak awal, bahwa menerima kehadiran Sang Putera berarti membiarkan jiwanya tertembus oleh pedang. Simeon telah mengingatkan sang ibu, tetapi Maria memang seorang perempuan yang mempunyai hati terhadap orang yang menderita. Maria tahu akan makna kehidupan.

Yesus pun tahu dan sadar siapakah perempuan yang mempunyai hati itu, maka ketika Dia melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: 'ibu, inilah, anakmu!'. Bantulah dia, ajarilah dia, agar dia pun semakin mempunyai hati terhadap sesama. Dia memang berkehendak baik, dan roh itu penurut, tapi daging ini lemah, maka bantulah dan teguhkanlah dia. Maria dimintai bantuan oleh Tuhan Yesus untuk menolong para muridNya dalam menikmati keselamatan. Maria adalah seorang ibu Tuhan, maka dia tentunya mempunyai hati seperti Tuhan sendiri dalam menghasihi umatNya.

Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: 'inilah ibumu!'. Belajarlah kalian dari ibuKu, yang setia mengikuti Aku. Maria adalah seorang yang mempunyai hati dalam perjalanan hidup. Dia telah menerima kehadiranKu semenjak semula, bukan  semenjak Aku ada di tengah-tengah keluarga Nazaret, tetapi ketika Aku hendak turun ke dunia, dia sudah mau mengamini kehadiranKu. Aku telah tinggal dalam hatinya terlebih dahulu.

Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Inilah sikap seorang murid yang baik, mau mendengarkan dan melaksanakan kehendak Sang Guru. Sikap inilah yang dilakukan juga oleh orang-orang yang berada di gunung Karmel dalam usaha mengalami kehadiran Allah. Mereka mencontoh para murid dalam mendengarkan dan melaksanakan kehendak sang Guru. Mereka mencontoh para murid menerima Maria sebagai ibu, sebagaimana yang dikehendaki sang Putera.

Para karmelit, yakni mereka yang berada di gunung Karmel, memandang Maria sebagai saudari mereka, karena para karmelit berusaha bersama-sama meneladan Maria dalam mengalami kehadiran Allah. Mereka meminta bantuan Maria untuk mengajar dan medampingi mereka, mendoakan dan melindungi mereka dalam usaha mengalami kehadrian Allah. Bukankah Yesus telah menyerahkan para muridNya kepada Maria?  Dari sang bunda Maria yang satu dan sama, sebagaimana para karmelit berlindung, kita pun hendaknya berani meneladan Maria, dan memohon bantuannya dalam mengikuti sang Putera demi mendapatkan keselamatan.

Kita merayakan Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, karena kita juga ingin selalu menikmati lindungan dan doa-doa Maria, sebagaimana dinikmati oleh orang-orang yang merasakan kehadiran Allah di gunung Karmel.

 

Oratio :

            Ya Tuhan Yesus, Engkau menyerahkan para murid dalam lindungan Maria, sang bunda, karena memang dia begitu sabar dan setia dalam mengikuti Engkau.  Jadikanlah kami, orang-orang yang setia seperti Maria.

Ya Maria, bunda kami, doakanlah kami

 

 

Contemplatio :

"Ibu, inilah, anakmu!"

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening