Jumat dalam Pekan Biasa XIII, 5 Juli 2013


Kej 23: 1-4  +  Mzm 106  +  Mat 9: 9-13

 

 

 

 

Lectio :

Suatu hari  Yesus  melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

 

 

Meditatio :

'Ikutlah Aku', kata Yesus kepada Matius, seorang pemungut cukai, lalu berdirilah Matius dan segera mengikut Dia. Matius dipanggil dan langsung mengikuti Yesus. Matius tidak berkata-kata untuk memohon pamit terlebih dahulu kepada keluarga, sebagaimana kita renungkan kemarin Minggu. Hari ini dipanggil, hari ini juga berangkat pergi mengikuti Dia. Tidak ada istilah hari esok, semuanya hari ini.

Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Kapan pesta makan ini terjadi? Sepertinya tidak menjadi perhatian. Namun kiranya, yang menjadi perhatian banyak orang adalah mereka yang makan bersama sang Guru, yakni para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Apakah memang mereka para pendosa? Cap yang diberikan masyarakat memang tak jarang sebagai pembunuhan kharakter pribadi seseorang. Si A ini adalah begini dan begitu. Ukuran  apa yang mereka kenakan, sehingga mereka menyebut sesamanya sebagai orang-orang berdosa. Apakah kita berani menyebut mereka yang kita anggap sombong dan tinggi hati sebagai orang-orang berdosa? Bagaimana dengan mereka yang tidak menghayati keutuhan perkawinan? Bagaimana dengan mereka yang hidup tanpa berkat pernikahan, dan kumpul kebo? Bagaimana dengan mereka yang suka tampil dalam aneka pertemuan? Bagaimana dengan saudara-saudari kita yang mengaku diri Katolik, tetapi tidak pernah pergi ke gereja, tidak pernah aktif di lingkungan atau aneka kegiatan rohani manapun? Bagaimana dengan mereka yang suka main kekerasan, KDRT? Semuanya ini tampak di depan mata kita, minimal kita pernah mendengarnya.

'Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?', komentar orang-orang Farisi terhadap para murid. Apa komentar anda, bila melihat Romo Gunawan sering keluyuran malam di alun-alun? Apa komentar anda, bila Romo yang satu ini sering bergaul dan selalu meng-iya-kan kemauan orang-orang yang memang sudah dikenal banyak orang sebagai orang-orang yang gak-beres hidupnya? Kecemasan dan kegelisahan seperti itu pasti muncul, bila ada orang-orang yang di-tua-kan, tetapi tidak sesaui dengan gambaran ideal kita. Terlebih-lebih terhadap seorang Yesus, yang terkenal sebagai Guru yang bijak dan berwibawa, Orang Nazaret itu.

Tak jarang kita mempunyai konsep dan gambaran terhadap sesame kita. Kita mempunyai gambaran ideal terhadap orang lain. Itu hal yang bagus. Namun kiranya gambaran kita itu tidak membatasi gerak dan langkah orang tersebut untuk memenuhi panggilan dan tugas perutusan yang diemban sebagai seorang. Semuanya ini banyak terjadi dari pihak orangtua terhadap anak-anak yang masih menjadi tugas tanggungjawabnya. Gambaran ideal itu dapat membatasi seseorang, karena kita yang mempunyai kompas dan arahan, dan bukannya dia yang kita idealkan. Struktur tubuh, entah secara fisik atau pun psikis  amat menentukan seseorang menentukan langkah hidupnya dalam menghadapi sebuah peristiwa yang satu dan sama. Namun tak dapat disangkal perbedaan yang mereka bawa itu diarahkan oleh Roh yang satu dan sama guna menuju kekudusan, sebagaimana Allah sendiri adalah kudus.

'Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit', jawab Yesus. Karena memang 'Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang' (Luk 19: 10). Berdoa adalah suatu persembahan seseorang kepada Tuhan, entah berupa pujian atau sembah sujud. Demikian juga sedekah dan persembahan di altar adalah sebuah pemberian seseorang, tetapi semuanya terasa sepi dan kosong, bila semuanya dilakukan tanpa ada hati yang penuh belaskasih, karena semuanya akan tampak sebagai kewajiban dan bukannya suatu pemberian diri. Pergaulan Yesus dengan orang-orang yang dicap sebagai pendosa adalah adalah sapaan belaskasih yang mengajak mereka kembali menikmati perhatian dan kasih Allah. Untuk itulah Yesus tadi mengatakan: 'pergilah dan pelajarilah arti firman ini: yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa'.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, tak jarang kami dengan mudah menghakimi orang lain seturut alam pikiran kami sendiri. Mereka tidak bersalah, dan bahkan mereka telah ambil keputusan yang tepat dan berguna baginya, tetapi kami dengan mudah menghakiminya habis-habisan, karena egoisme diri kami, dan kami merasa lebih berpengalaman.

Bantulah kami, ya Yesus, untuk hari demi hari semakin mengerti orang lain, bukan dia yang ada di sana, melainkan dia yang ada di dekat kami, dalam keseharian hidup ini. Berkatilah kami, ya Yesus, juga dalam mendampingi anak-anak kami. Amin.

 

 

 Contemplatio:

'Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa'.

 

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening