Kamis dalam Pekan Biasa XIII, 4 Juli 2013


Kej 22: 1-19  +  Mzm 116  +  Mat 9: 1-8

 

 

 

 

Lectio :

Suatu hari naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!". Dan orang itu pun bangun lalu pulang.

Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.

 

 

Meditatio :

'Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni'. Inilah penegasan Yesus,  yang diberikan kepada seseorang yang sakit lumpuh. Yesus berkata demikian, karena Dia melihat iman mereka, yakni mereka yang mengangkat orang lumpuh itu dalam tandu pembaringan. Sangat tampak, yang dipuji adalah iman orang-orang yang mengusung, dan bukannya dia yang sedang terbaring. Rahmat dan anugerah memang dapat dinikmati oleh seseorang, karena iman orang-orang yang berada di sekitarnya. Kunjungan orang-orang beriman kepada seseorang yang sedang sakit pasti akan meringankan beban dia, yang harus terbaring karena sakit. Tentunya apalagi, bila mereka mau berdoa bersama dengan orang yang sedang sakit. Iman kepercayaan seseorang anak manusia memang selalu menyenangkan hati Tuhan Allah. Iman itu sungguh-sungguh meluluhkan hati Tuhan Allah. Kiranya pengalaman iman Abraham (Kej 22) juga menjadi pengalaman kita bersama, bahwasannya segala yang indah dan mulia dapat terjadi di tengah-tengah kita, karena iman dan kepasrahan diri kita kepada kehendak dan kemauan Tuhan Yesus.

'Ia menghujat Allah', komentar orang-orang ahli Taurat. Mengapa? Karena hanya Tuhan Allah sang Empunya kehidupan, yang berkuasa mengampuni dosa dan kesalahan umat manusia. Sebab memang Dialah sang Penguasa kehidupan ini, dan Penakluk alam semesta. Berkata-kata pengampunan berarti seseorang menghojat Allah, karena menyamakan dirinya dengan Allah. Padahal Siapakah Guru dari Nazaret ini. Mengapa Dia menyamakan diri dengan Allah?

'Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa', tegur Yesus kepada mereka ahli-ahli Taurat. Kalau mereka menegur Yesus karena dianggap menghojat Allah, sebaliknya Yesus menegur mereka, karena pikiran mereka jahat. Pikiran mereka jahat, karena mereka menuduh Yesus menghujat Allah. Bukankah Dia memang Allah yang menjadi manusia? Mereka berpikiran jahat, karena mereka tidak mau berterus-terang bertanya kepadaNya, mengapa Dia berkata-kata demikian. Mereka tidak berkata-kata, tetapi mereka telah berbuat dosa dalam hati.

Dosamu sudah diampuni adalah ucapan yang berat dikatakan, karena memang hanya mampu diucapkan oleh Tuhan sang Empunya kehidupan, tetapi tidaklah demikian dengan ucapan bangunlah dan berjalanlah, karena memang setiap orang yang telah mendapatkan karunia itu dengan cuma-cuma juga diundangnya untuk berani membagikannya secara cuma-cuma  pula. Dosamu sudah diampuni sepertinya lebih ringan diucapkan, karena tidak ada bukti nyata yang dapat ditampakkan kepada orang yang bersangkutan atau kepada orang-orang lain yang berada di sekitarnya, sebaliknya  bangunlah dan berjalanlah lebih berat, karena kata-kata itu harus mampu dinyatakan dan dibuktikan kepada orang lain. Kata-kata yang tanpa bukti kebenarannya akan kehilangan maknanya.

'Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!', kata Yesus kepada orang lumpuh itu. Yesus tidak menyuruh orang itu untuk membawa persembahan kepada para imam sebagai tanda bukti kesembuhannya, sebagaima kita renungkan beberapa hari lalu, malahan sebaliknya Yesus meminta dia untuk segera pulang, dan tidak usah mengikutiNya. Yesus tidak ingin orang itu mengikuti diriNya dan menjadi muridNya; dan memang orang itu pun bangun lalu pulang. Apakah dia sempat mengucapkan terima kasih kepadaNya? Tidak diceritakan. Dia langsung pulang. Tidaklah demikian, dengan mereka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia. Suatu hal yang indah dan mengagumkan di luar kemampuan insani seseorang telah mereka lihat dan mereka nikmati bersama, dan itulah yang membangkitkan rasa syukur dan terima kasih bagi setiap orang. Segala pemberian dari Allah memang mengajak dan mengundang setiap orang untuk memuji dan memuliakan Tuhan; bahkan segala kebaikan yang sempat dan mampu dilakukan oleh seseorang dimaksuklan agar 'terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga' (Mat 5: 16). Inilah permintaan Yesus kepada kita.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, Engkau melimpahkan berkat dan rahmatMu kepada setiap orang yang mempercayakan diri kepadaMu. Semoga Engkau selalu memperbaharui iman kami, agar kami semakin berani berserah kepadaMu dan mendapatkan rahmat dan berkat bagi hidup kami.

Yesus, perteguhlah iman saudara dan saudari kami yang mulai tampak luntur hanya karena kesulitan hidup sehari-hari, baik ekonomi atau kesehatan. Amin.

 

 

 Contemplatio:

''Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening