Minggu dalam Pekan Biasa XV, 14 Juli 2013


Ul 30: 10-14   +   Kol 1: 15-20  +  Lukat 10: 24-33

 

 

 

Lectio :

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

 

 

Meditatio :

'Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?', tanya seorang ahli Taurat kepada Yesus. Yesus yang tahu benar: siapakah orang yang bertanya itu, membalik pertanyaan itu dengan mengatakan: 'apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?'. Yesus mengembalikan kepadanya, karena memang orang itu pasti tahu apa yang sudah tersurat dalam kitab Taurat. Yesus tahu isi hati umatNya. Apakah Yesus merasa hendak dicobai oleh orang itu?

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri', jawab orang itu. Cinta akan Tuhan dan sesama memungkinkan setiap orang untuk menikmati hidup kekal, dan tinggal dalam Kerajaan Surga. Kedua perintah itu memungkinkan setiap orang menikmati hidup kekal, karena memang itulah kehendak Allah sendiri, agar semua orang mengasihi Dia segenap hati, yang memang tak jarang, hadir secara nyata dalam diri sesamanya. 'Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup', tegas Yesus. Jawaban seorang ahli Taurat begitu tepat, karena memang setiap orang mempunyai kemampuan untuk melihat dan merasakan, yang baik dan indah, yang diberikan Tuhan kepada setiap orang. Bukankah firman Tuhan itu dekat dalam diri manusia, yakni dalam hati dan mulut setiap orang, dan setiap orang terdorong untuk melaksanakannya, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Ulangan (Ul 30)? Secara kodrati, manusia tercipta seturut rupa Allah, dia selalu terarah kepada yang luhur dan mulia.

'Namun siapakah sesamaku manusia?', tanya balik ahli Taurat ini. Yesus pun menjawabnya dengan sebuah perumpamaan tentang seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun, yang bukan saja merampoknya habis-habisan, melainkan juga memukulnya, dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.  Orang yang terkapar itu ternyata masih hidup dan mendapatkan perawatan yang amat-amat manusiawi, dari sesamanya.

Ternyata ahli Taurat itu bisa menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri. Dari ketiga orang, yakni seorang imam, seorang Lewi dan seorang Samaria, yang menjadi sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu, adalah dia yang telah menunjukkan belas kasihan'. Seseorang menjadi sesama bagi orang lain adalah dia yang mempunyai hati kepada orang lain. Dia  yang berani keluar dari dirinya, tanpa memikirkan siapakah dirinya; malahan dengan rela hati dan tanpa memandang muka, terlebih mereka yang sakit dan menderita dan berkekurangan, dia menyapa, memandang dan merangku sesamanya. Itulah yang tidak bisa dilakukan dengan seseorang yang mengaku diri sebagai imam, ataupun seorang keturunan suku Lewi yang mempunyai status sosial tinggi. Kita mungkin tidak ada yang seperti imam, atau seorang Lewi atau pun seperti orang Samaria itu, dan kita tidak dituntut persis sama dengan dia, tetapi jujur saja banyak orang berat memang memandang sesamanya apa adanya. Kita seringkali enggan memandang dan bergaul dengan mereka yang berbeda dengan kita, berbeda negara dan bangsa, berbeda suku dan bahasa, berbeda agama dan kepercayaan, berbeda wilayah dan lingkungan, berbeda komunitas dan keluarga, berbeda hobi dan pendapat, berbeda pekerjaan dan kekayaan, berbeda kesukaan dan makanan. Banyak dari kita enggan memandang orang lain yang berbeda dengan kita. Yesus meminta kita untuk berani mempunyai kasih dan menjadi sesama bagi orang lain. Inilah praksis doa datanglah KerajaanMu, di bumi seperti di dalam surga.

'Pergilah, dan perbuatlah demikian!', tegas Yesus.

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau mengajak kami untuk berani bergaul dengan sesama kami, tanpa memandang muka; tak jarang kita membatasi pergaulan dengan sesama, kita punya alasan ini dan itu, sehingga tidak mau menyapa dan berkenalan, bergaul dan bergandengan tangan dengan orang lain, kecuali dengan dia dan dia, yang sependapat dengan aku.

Yesus, sebagaimana Engkau menerima setiap orang, ajarilah kami hidup seperti Engkau, agar kami menikmati hidup kekal. Amin.

 

 

 Contemplatio:

'Siapakah sesamaku manusia?'

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening