Peringatan Santa Maria Magdalena, 22 Juli 2013


Kid 3: 1-4   +   Mzm 63  +  Yoh 20: 1.11-18

 

 

 

Lectio :

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."

Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

 

 

 

Meditatio :

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.

Itulah pengalaman Maria Magdalena yang tidak bisa banyak berbuat apa-apa. Dia hanya melihat, bahwa Dia yang dikasihiNya telah tiada. Dia yang telah mati disalibkan, Dia yang telah dibaringkan dalam kubur, kini Dia telah hilang. Maria tidak mampu berkata-kata, bahkan ada dua orang malaikat yang berdiri di hadapannya tidak dikenalnya dan tidak merisaukan dirinya. Kesedihan dan duka menutup seseorang melihat dunia dan sesamanya. Magdalena tenggelam dalam kepedihan hidup. Sebaliknya, malahan malaikat-malaikat itu yang bertanya: 'ibu, mengapa engkau menangis?', dan baru tersentaklah Maria, sembari mengatakan apa yang sedang dialaminya sekarang: 'Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan'.

Bahkan ketika Yesus sendiri menyapa dirinya, 'ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?', Maria tidak mengenalNya. Dia mencari Yesus, tetapi ketika Yesus menyapanya Dia tidak dikenalnya. Maria malahan menyangka Yesus adalah penunggu taman, dan menanyakan: 'tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya'. Maria Magdalena mencari Yesus, bukan seturut keberadaanNya, melainkan menurut pikiran dan kemauan diri sendirinya. Mencari Yesus seharusnya seturut keberadaan Dia yang hidup, dan bukannya dengan membatasi keberadaanNya seturut daya kemampuan kita.

'Hari ini kucari jantung hatiku.

Kucari, tetapi tak kutemui dia.

Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia.

Akhirnya, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia' (Kid 3: 1-4).

Mencari Dia sang Kekasih telah aku dapatkan ketika aku telah kehilangan Dia. Dia ada di sampingku, tetapi tidak peduli aku. Sekarang aku hanya memandang Dia, dan Dia pun memandang aku. Aku pandang Dia, dan kusempatkan diriku untuk tersenyum. Ringan dan menyenangkan.

'Maria!', kata Yesus, yang memang sebuah membuka mata hati Maria untuk berani melihat Allah yang ada di depannya. Keberanian mendengarkan suara panggilan Yesus membuat kita mengenal Dia dengan baik, dan mengenal Dia apa adanya. Itulah yang dilakukan Maria, saudari Marta, sebagaimana kita renungkan kemarin. Maria telah memilih yang terbaik yang tak akan diambil daripadanya.

'Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu'. Maria diminta menyampaikan kabar sukacita, bahwa Dia yang dicari itu hidup; dan berkat kematian dan kebangkitanNya, dan para murid diminta semakin berani menikmati rahmat pengangkatan sebagai putera dan puteri Bapa di surga. Bapa sang Putera adalah Bapa seluruh umat manusia.

'Aku telah melihat Tuhan!', seru Maria kepada para murid. Dia berkata demikian, karena memang dia telah merasakan dan mengalamiNya. Pengalaman akan Allah membuat setiap orang untuk berani berbagi kasih itu dengan sesama. Kalau Maria Magdalena mampu memberikan yagn dimilikinya, tentunya kita semua mampu melakukannya. Itulah cinta.

 

 

Oratio :

Ya Tuhan Yesus, kami tak jarang begitu sedih dan menangis, bila menghadapi aneka tantangan persoalan hidup yang tak kunjung henti, kami mudah putus asa. Bantulah kami, ya Yesus, untuk berani mencari Engkau yang memang seringkali ada di dekat kami sendiri. Kami sering melihat tetapi tidak memandang.

Santa Maria Magdalena, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio:

'Kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan Dia'.

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening