Rabu dalam Pekan Biasa XVI, 24 Juli 2013


Kel 16: 1-5  +  Mzm 78  +  Mat 13: 1-9




Lectio :

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.  Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.  Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.  Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" 




Meditatio :

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.  Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.  

Yesus duduk dalam perahu, sedangkan banyak orang yang datang berbondong-bondong berdiri di pantai. Dia menjauh dari mereka, tentunya supaya bisa mengajar dan tidak terhimpit oleh banyaknya  orang. Mungkin pantai danau tidak landai sehingga mereka dapat berkomunikasi dari jarak dekat, atau banyak wadas batu-batu di sekitar danau.

Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Namun sepertinya dia asal menabur begitu saja, tidak memperhatikan area yang ditaburi benih-benih itu.   
Sebagian benih itu ada yang jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 
Ada yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis, tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 
Ada yang jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 
Ada lagi yang jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 

Yang jatuh di pinggir jalan, wajarlah habis tanpa bekas karena dimakan burung-burung, suatu gambaran seseorang yang mendengar, tetapi tidak mendengarkan. Masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Seindah apapun kabar keselamatan yang disampaikan, bila memang orang tidak mau mendengarkan, maka sabda keselamatan itu akan berlalu. Sabda keselamatan itu milik Allah, tetapi tidak pernah main paksa dalam menelusup dalam jiwa seseorang. Allah hanya mengetuk dan mengetuk pintu hati setiap orang.

Ada yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis, tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.  Matahari dalam menyinarkan cahayanya, tak dapat disangkal mampu menyengat kulit dan bahkan mampu membuat mati seseorang. Kekuatiran seseorang akan hidup memang mampu mengalahkan taburan iman yang telah diterimanya. Karena memang iman akan Tuhan tidak memberi jaminan untuk hidup layak. Iman akan Tuhan tidak memberikan nafkah hidup bagi setiap orang. Sabda yang pernah didengarkan seseorang sebatas masuk dalam akal budi, dan tidak dilanjutkannya dalam jiwa dan hati. Kepandaian dunia pasti akan mengalahkan mereka. Itulah biji yang jatuh di tanah yang berbatu-batu.

Ada yang jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.  Demikian juga semak berduri kehidupan seringkali melemahkan seseorang dalam menikmati sabda keselamatan. Kesedihan dan dukacita, keterbatasan dan kelemahan, sakit dan tak berdaya, kemiskinan dan aneka kesulitan, atau malahan bahkan kemapanan hidup seseorang mampu melemahkan seseorang dalam menikmati rahmat sukacita Ilahi.  Mereka yang tidak mampu menyangkal diri dan menanggulangi salib Kristus, memang akan mengalami kelumpuhan jiwa dalam menghadapi kenyataan hidup.

Sedangkan benih yang jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.  Benih itu sudah tumbuh dan berkembang, masih berbuah lagi. Barangsiapa yang mempunyai masih mendapatkan rahmat dan berkatNya, karena kemauannya menerima taburan sabda dan keselamatan.

Tanah yang berbatu-batu ataupun penuh dengan semak berduri inilah yang sering terjadi di antara kita. Semuanya ini bisa terjadi karena kurang keterbukaan kita akan sabda dan kehendak Tuhan. Kita sering menutup diri. Kita kurang menjadi tuan rumah yang baik dalam menanggapi kehadiran Tuhan. Juga tak dapat disangkal, kita adalah orang-orang yang kurang setia dalam menjumpai dan menjamu Dia, bila Dia mengunjungi kita. Kita tidak mau menjadi pendengar yang baik, sebaliknya kita mudah putus asa dan kecewa bila menghadapi tantangan hidup yang bertubi-tubi. Kita mudah mengeluh dan kurang puas, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Israel dalam perjalanan mereka menuju tanah terjanji (bab 16), padahal Dia sang Empunya kehidupan mendampingi dan menyertai perjalanan hidup mereka. Kita pun mudah mengatakan Tuhan selalu beserta kita, tapi tak jarang kita tidak mau setia dalam menikmati pendampinganNya. Kita mudah seperti anak-anak kecil yang berteriak-teriak, tetapi kita tidak tahu apa yang kita teriakan, dan orangtua kita ada di dekat kita.

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!




Oratio :

Ya Tuhan Yesus, jadikanlah kami menjadi lahan yang subur, bersihkan hati dan hidup kami dari segala nafsu dan keinginan yang tidak baik. Bimbinglah kami dengan Roh Kudus-Mu agar kami dapat menerima firman-Mu dengan sepenuh hati, percaya dan melakukannya. Dengan begitu kami akan mampu menghasilkan buah yang baik bagi kemuliaan Tuhan dan bagi sesama. Amin





Contemplatio:

'Benih yang jatuh di tanah yang baik menghasilkan buah seratus ganda'.












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening