Rabu dalam Pekan Biasa XVII, 31 Juli 2013

Kel 34: 29-35   +   Mzm 99  +  Mat 13: 44-46

 

 

 

 

Lectio :

Pada suatu kali berkatalah Yesus kepada para murid-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."

 

 

 

Meditatio :

Kedua perumpamaan mempunyai makna yang sama. Kedua-duanya mengajak semua orang untuk berani  menjual seluruh miliknya dan membeli ladang, tempat di mana timbunan harta ada terpendam atau untuk membeli mutiara yang sangat berharga', lebih indah dari mutiara yaspis. Harta yang terpendam atau mutiara itu adalah Kerajaan Surga, yang akan didapat dan dinikmati oleh setiap orang, bila memang mereka mau memilikinya. Kerajaan Surga itu sudah ada memang, dan bahkan ada sebelum kita orang ada, sebab Allah sang Pencipta hadir dan meraja. Kita dapat menikmatiNya, bila kita memang berani mendapatkanNya.

Bila demikian, bagaimana kita boleh menikmati kehadiranNya?  Kita dapat menikmati kehadrian Kerajaan Surga, pertama-tama,  seseorang harus mempunyai rasa memiliki akan Kerajaan Surga; harus ada kerinduan untuk mendapatkan dan menikmatiNya; ada keinginan dan tertantang terus untuk memilikiNya. Kedua, seseorang harus berani mencari dan mencari Kerajaan Surga itu. Kita diminta untuk berani mencariNya, karena Kerajaan Surga itu tidak tampak secara kasad mata. Manusia harus mencari, karena Dia selalu hadir secara tersembunyi. Ketiga, setelah Kerajaan Surga ditemukan kehadiranNya, seseorang harus berani menerimaNya, yakni dengan berani menomersatukan Kerajaan Allah dan menomerduakan lainnya. Dia harus berani menjual seluruh miliknya dan membeli ladang, tempat di mana timbunan harta ada terpendam atau untuk membeli mutiara yang sangat berharga. Kerajaan Surga harus mendapatkan perhatian utama dalam hidup. Bagaimana dengan hidup keseharian kita? Carilah dahulu Kerajaan Surga, maka yang lain akan ditambahkan kepadamu (Mat 6: 33).

Seseorang yang menikmati kehadiran Kerajaan Surga dalam hidupnya, akan mendapatkan kebahagiaan dan sukacita. Kiranya baik juga, kalau kita berani memperdalamnya dengan pengalaman Musa yang menikmati kehadiran Allah secara istimewa. Kehadiran ilahi yang dinikmatinya, dibagikan oleh Musa, bukan hanya kepada Harun, teman satu komunitas panggilan kenabian, melainkan juga kepada bangsa Israel, yakni komunitas di mana dia berada dan hidup (Kel 34), dan kepada merekalah Musa diutus untuk menyampaikan warta sukacita, dan kepada merekalah Musa pernah diutus oleh Tuhan Allah Israel untuk membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Musa adalah seorang Israel yang diutus kepada bangsanya sendiri, yakni umat Allah, untuk mewartakan sabda dan kehendak Bapa sang Pencipta. Demikian juga kita, adalah putra-puteri Gereja, yang diutus oleh Allah untuk mewartakan sabda dan kehendakNya, bukan kepada orang-orang jauh di sana, melainkan kepada komunitas di mana kita hidup dan berada. Sebagaimana Musa menjadi berkat bagi bangsa Israel, demikian kita yang telah disatukan dalam GerejaNya yang kudus berkat pembaptisan, hendaknya menjadi berkat bagi Gereja, umat Allah.




Oratio :

Ya Tuhan Yesus, teguhkanlah harapan dan iman kami, agar kami selalu berani memilih yang terbaik bagi hidup kami dan mendatangkan keselamatan. Sebab tak jarang kami ini mudah jatuh dalam kepentingan sesaat.

Santo Ignasius, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Kerajaan Sorga itu seumpama mutiara yang indah'.



 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening