Sabtu dalam Pekan Biasa XIII, 6 Juli 2013


Kej 27: 1-5  +  Mzm 135  +  Mat 9: 14-17

 

  

Lectio:

Suatu hari datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."

 

 

 Meditatio :

'Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?',  tanya para murid Yohanes kepada Yesus. Berani juga mereka bertanya langsung kepada sang Guru, dan bukannya kepada para murid Yesus, yang memang sama-sama sesama murid. Mungkin saja mereka sudah saling bertanya, tetapi sepertinya para murid Yesus tidak bisa menjawab mereka dengan memuaskan. Sama-sama komunitas perguruan, mengapa murid-murid Orang Nazaret ini tidak diwajibkan berpuasa, apakah mereka mempunyai pandangan baru? Apakah para murid Yesus sendiri pernah bertanya kepadaNya: mengapa sang Guru tidak meminta mereka berpuasa?

'Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa', sahut Yesus kepada mereka. Puasa bukan soal waktu. Yesus tidak meminta para muridNya untuk berpuasa, walau saat itu adalah waktunya bagi orang-orang Israel untuk berpuasa.  Yesus tidak meminta mereka berpuasa, karena diriNya ada bersama mereka. Dia adalah sang Pengantin laki-laki, maka layaklah kalau mereka tidak berpuasa. Kebersamaan dengan sang Pengantin laki-laki tidak membuat seseorang harus berpuasa, malahan sebaliknya merasakan sungguh kehadiran dan kebersamaan dengan sang Pengantin.

Mengapa harus berpuasa, kalau memang tidak diperlukan. Bertindak lebih, melewati ukuran yang sudah ditentukan, seringkali  dimaksudkan untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik, tetapi tak jarang dapat mengacaukan perihal yang telah direncanakan. Demikian juga, 'tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya'. Mengapa seseorang harus mengendalikan diri dengan berpuasa, kalau memang dia telah membiarkan diri dikendalikan oleh Yesus sang Empunya kehidupan. Seseorang tidaklah perlu berpuasa dan bermatiraga, selama dia membiarkan diri dipimpin dalam kendali sang kehidupan. Sebab Dia akan mengarahkan hidup kita kepada kebenaran sejati dan yang mendatangkan keselamatan, dan tentunya Dia akan menegur, bila kita mulai menyeleweng daripadaNya dan berselingkuh dengan kekuatan lainnya. Berpuasa adalah sebuah sikap dan tindakan seseorang untuk mengendalikan dirinya; sebuah pengalaman yang memang masih bersikap insani. Tidaklah demikian, bila seseorang yang tinggal bersama dengan sang Pengantin, dia akan selalu mengarahkan sikap dan tindakan hidupnya hanya demi sukacita bersama sang Pengantin.

Yesus meminta kita untuk selalu bersama dengan diriNya. Dalam Dia ada keselamatan. Namun bagaimana dengan orang-orang yang terus mengejar dan mengejar berkat ilahi? Bagaimana kita dapat memahami usaha dari Ribka untuk mendapatkan berkat ilahi dari sang suami, yang memang hanya diberikan kepada anak sulung, tetapi dialihkan kepada Yakub yang  menjadi pilihan sang ibu (Kej 27)?  Ada permainan terselubung dalam mengejar berkat; sebuah perjuangan untuk mendapatkan berkat, walau tampaknya seperti menghalalkan cara. Tentunya kita ingat akan bendahara yang tak jujur itu (Luk 16), bagaimana dia berjuang dan berjuang agar tetap hidup dan selamat.

 

 


Oratio :

          Ya Yesus, tinggal bersama dengan Engkau, memang kami akan menikmati sukacita ilahi. Kami juga Engkau bebaskan dari usaha-udaha matiraga diri, karena memang kami berada dalam pantauanMu sendiri. Engkau akan menuntun dan menyertai kami, tetapi Engkau un akan menegur kami. Bantulah kami, ya Yesus, agar kami suka akan bimbinganMu, sebab tak jarang kami ini lemah dalam mengikuti kehendakMu, dan mudah mencari kepuasan diri.

Yesus, bantulah kami selalau, amin.

 

 

Contemplatio :

'Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?'

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening