Selasa dalam Pekan Biasa XIV, 9 Juli 2013


Kej 32: 22-32   +  Mzm 17  +  Mat 9: 32-38
 

 
 
Lectio :
Suatu ketika dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel." Tetapi orang Farisi berkata: "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan."
Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."
 
 
Meditatio :

Suatu ketika dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan; dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata.

Peristiwa yang satu dan sama mendapatkan penilaian yang berbeda. Banyak orang heran, berkata: 'yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel'. Mereka heran dan kagum, karena Yesus mampu memberikan yang terindah dalam diri umatNya. Mereka kagum terhadap Yesus. Tetapi tidaklah demikian dengan orang-orang Farisi,'dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan'. Mengapa mereka berkata demikian? Sebuah penilaian pribadi terungkap, dan bukannya sebuah kenyataan, melainkan karena sikap pribadi mereka yang mengatakan. Sungguh berbeda dengan mereka yang kagum.

Inilah kenyataan hidup kita. Kita begitu mudah memandang orang lain, bukan berdasar kenyataan mereka yang kita lihat, kita memandang orang berdasarkan konsep kemampuan akal budi untuk menilai mereka. Suatu penilaian yang amat subyektif, dan tak jarang penilaian itu berbeda dan bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Kebaikan Tuhan yang satu dan sama masih mampu ditafsirkan oleh banyak orang, apalagi kebaikan kita yang tak jarang amat subyektif ini.

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Sepertinya pewartaan tentang Kerajaan Allah dan penyembuhan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sepertinya juga hendaknya menjadi permenungan kita bersama bahwasanya dalam kelemahan, sakit dan keterbatasn diri seseorang tidak mampu berbuat apa-apa, dia hanya mengandalkan orang lain. Kebergantungannya kepada orang lain, kiranya menjadi konsep bagi setiap orang dalam mengandalkan Tuhan sang Empunya hidup. Kita tidak dapat berbuat apa-apa di luar kasih dan perhatianNya.

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: 'tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu'. Kalau hari Minggu kemarin Yesus menyampaikan permintaan ini agar para murid yang diutusNya tetap memohon bantuan dari sang Empunya tuaian agar mengirimkan para pekerjaNya, walau mereka sendiri dalam perutusan ini juga sebagai pekerja-pekerjaNya, hari ini Yesus tetap menyampaikan hal yang sama kepada para muridNya mengingat banyak umat yang kurang mendapatkan perhatian. Mereka pergi ke sana ke mari bagaikan domba tanpa gembala.

Kekurangan akan gembala memang tidak dapat disangkal karena terbatasnya karya pelayanan mereka, dalam arti keberadaan diri sendiri yang membatasi mereka. Keterbatasan dan kelemahan kodrati kiranya menjadi perhatian kita bersama dalam meminta dan meminta pelayanan mereka. Kita beri kesempatan kepada mereka untuk sejenak menarik nafas dalam karya pelayanan mereka, kita beri kesempatan mereka untuk menimba sumber air kehidupan, agar pelayanan mereka tetap mengalirkan sukacita dan penuh kegembiraan.

Yang tidak dapat disangkal kemandirian kita sebagai umat Allah yang lemah, komunitas-komunitas yang hanya ingin mendapatkan pelayanan dan bukannya berani melayani diri sendiri, seringkali terlalu berani meminta aneka pelayanan dari mana pun juga tanpa adanya koordinasi yang jelas. Asal kami bisa mendapatkan, kita harus tetap berjalan. Itulah yang sering dikatakan, yang sebenarnya melemahkan diri sendiri dalam kemandirian komunitas dan dalam kebersamaan dalam hidup menggereja. Janganlah kita, seperti orang muda yang kaya itu yang memang tidak pernah membunuh atau merampok, bahkan mampu menghormati orangtuanya, hanya karena ada harta benda yang dimilikinya (Mat 19); semuanya dilakukan hanya karena berlimpahnya harta benda yang dimilikinya, tetapi ketika diminta untuk memanggul salib maka larilah dia.

Tak dapat disangkal pula aneka komunitas mencari-cari pelayanan semacam itu, karena mereka mencari kenyamanan dan kepuasan diri. Tidak ada kemandirian komunitas dalam melangkahkan kaki maju ke depan menatap masa depan yang lebih baik. Banyak komunitas enggan mencari tantangan malahan sebaliknya banyak yang ingin mendapatkan perhatian. Kiranya pengalaman Yakub dalam meminta berkat dari Seseorang yang tidak dikenalnya, harus dilaluinya dengan berat dan penuh perjuangan. Yakub harus berani bergumul melawan Allah dan manusia (Kej 32). Pergumulan dalam hidup sehari-hari sepertinya tidak bisa dihindari oleh setiap orang, bila dia menghendaki untuk lebih maju ke depan.
 
 
 
Oratio :
 
 Ya Yesus Kristus, Engkau adalah Panutan kami. Engkau yang selalu berbuat kebaikan walaupun di cela oleh orang-orang Farisi, mampukan kami ketika kami di tolak, di kritik, di cela orang agar tidak mudah menyerah. Pakailah kami untuk membawa kabar gembira tentang rahmat penyelamatan dan belaskasih-Mu kepada sesama di sekitar kami yang sungguh-sungguh membutuhkan cinta penyembuhan dan pengampunan. Amin



 
 Contemplatio:

'Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu'.
 
 
 
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening