Selasa dalam Pekan Biasa XVII, 30 Juli 2013


Kel 33: 7-11   +   Mzm 103  +  Mat 13: 36-43

 

 

 

 

Lectio :

Pada suatu kali murid-murid Yesus datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang". Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!".

 

 

 

Meditatio :



'Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka'. Beginilah yang terjadi kelak di akhir jaman; peristiwa surgawi yang selalu menampakkan cahaya kemuliaan. Pengalaman demi pengalaman dalam Perjanjian Lama menjadi ingatan bagi banyak orang yang menandakan kehadiran Allah, sang Empunya Kerajaan Surga. Maka layak dan wajarlah, Petrus berserta murid yang lain merasa kerasan dan betah tinggal di atas gunung, ketika Yesus menampakkan cahaya kemuliaan bersama Musa dan Elia.

Pemisahan yang seharusnya tidak terjadi, akhirnya harus terlaksana juga karena ketidak setiaan dan pilihan umat manusia sendiri. Semua orang yang melakukan kejahatan akan dikumpulkan dari dalam Kerajaan-Nya, dan semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.  Bukan keselamatan yang diterima oleh mereka melainkan kebinasaan.

Sepertinya boleh kita kritisi makna perumpamaan yang disampaikan Yesus, sebab Yesus menyatakan 'benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis'. Bolehkah kita berkata, bahwasannya ilalang itu kodratnya memang demikian? Bolehkah kita berkata juga, bahwasannya ada orang-orang yang dilahirkan dalam kondisi dan posisi sebagai ilalang? Bagaimana dengan permenungan selama ini bahwasannya Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran dan citra diriNya (Kej 1)?

Tak dapat disangkal memang, Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan citra diriNya. Kendati demikian, manusia seringkali mengkondisikan diri dalam alur ilalang semenjak dia terkandung dalam rahim si ibu. Bagaimana selama seorang janin yang masih dalam kandungan sang ibu, sudah terbiasa dengan bahasa ilalang yang didengarnya dari teriakan sang ibu dan keluarga, dan itu terus berlanjut setelah kelahirannya di dunia ini?  Kekurangannya adalah  atmosfir dan kondisi keluarga  selalu memilih segala yang bertentangan dengan kehendak Allah. Bagaimana seorang anak manusia yang lemah itu dapat merasakan bahwa dirinya adalah benih gandum yang ditaburkan Anak Manusia?

Perumpamaan ini sekaligus meminta setiap orang untuk tidak mudah tenggelam dalam atmosfir kehidupan yang memang hanya mencari kepuasan diri dan menjauh dari kehendak Allah. Hidup adalah sebuah pilihan.




Oratio :

Ya Tuhan Yesus, Engkau menyampaikan sabda dan kehendakMu dengan sebuah perumpamaan yang begitu keras  tentang keberadaan kami sebagai benih gandum, yang Engkau taburkan sendiri. Benih gandum yang baik, sebagai manusia yang Kau kasihi, Kau ciptakan sesuai gambaran dan citra diriMu. Jujur, kami tahu ada begitu banyak hal-hal yang bertentangan dengan kehendakMu di sekeliling kami yang bisa membuat kami menjauh daripadaMu. Mampukan kami, ya Tuhan, agar senantiasa sadar dan tidak larut di dalam kehidupan yang hanya mencari kepuasan diri dan tetap teguh dalam mengikuti dan menjalankan kehendakMu.    Amin

 

 

Contemplatio:

 

'Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'.



 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening