Jumat dalam Pekan Biasa XX, 22 Agustus 2013

Rut 1: 1.3-6  +  Mzm 146  +  Mat 22: 34-40

 

 

 

Lectio :

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?".

Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi".

 

 

Meditatio :

'Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?.

Inilah pertanyaan seorang ahli Taurat yang memang hanya mencobai Yesus. Ini berarti pertanyaan terungkap tanpta ada ketulusan hati. Pertanyaan ahli Taurat ini hanyalah test case.

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama, dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri', tegas Yesus. 'Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi'. Penyataan Yesus ini menegaskan, bahwa kedua hukum kasih, yang saling betautan satu dengan lainnya ini, merupakan intisari dari aneka hukum dalam Taurat Musa.  'Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu'  jelas-jelas tertulis dalam kitab Ulangan (6: 5), demikian juga 'janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN', yang tersurat dalam kitab Imamat (19: 18).

Sebetulnya hukum cinta kasih, bukanlah aturan hidup yang baru, karena memang sudah ada dalam hukum Taurat. Cinta kasih mendapatkan penekanan dari Yesus, karena memang itulah sebenarnya rumusan konkrit dalam hidup beriman dan percaya kepada sang Empunya kehidupan. Buat apa seseorang percaya dan mengakui keberadaaan Tuhan sang Pencipta, kalau dia tidak mau berunduk kepadaNya? Buat apa seseorang percaya kepada Tuhan, bila memang Dia sang Pencipta, tidak mendapatkan perhatiannya, dan tidak ada rasa takut dan taqwa kepadaNya? Keberundukan diri kepada Tuhan sang Empunya kehidupan adalah bukti nyata bahwa seseorang mengakui adanya kekuatan yang luar biasa di luar dirinya, dan hanya padaNyalah kita harus percaya dan berserah diri. Percaya akan keberadaan Tuhan mengandaikan seseorang mengasihi sang Pencipta dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan akal budi.

Adalah sebuah kebohongan, seseorang mengakui keberadaan Tuhan sang Empunya kehidupan, tetapi tidak menaruh perhatian terhadap orang-orang yang ada di sekelilingnya. Keberadaan sesama manusia yang ada di sekeliling (kita) menjadi ukuran bagi setiap orang bahwa dia mampu melihat dan memandang sesuatu (orang lain) di luar dirinya. Yohanes dalam suratnya yang pertama pernah mengingatkan 'jikalau seorang berkata: aku mengasihi Allah, tetapi membenci saudaranya, ia adalah seorang pendusta, sebab barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya' (4: 20).

Sebaliknya, jika seseorang hanya menekankan pelayanan terhadap sesama, tetapi tidak memberi perhatian kepada Dia, yang sang Empunya kehidupan, sungguh-sungguh mengalami kerugian yang amat besar, dan amat disesalkan. Sebab dia akan melayani sesamanya, tetapi merasakan bahwa hidup ini semakin lama semakin kering. Semuanya ini bisa terjadi, karena tidak adanya siraman yang menyegarkan dari sang Empunya kehidupan; dan dia pun tidak mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik, dan hidup kekal pun tidak dapat dirasakan. Dia, bagaikan orang muda kaya, yang memang mampu melakukan segala perintah Allah (Mat 19: 20-21) atau seperti mereka yang mampu mengadakan aneka mukjizat dn nubuat, sebagaimana diceritakan oleh Matius (7: 22-23), tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa.

Yesus, tidak hanya meminta para muridNya, kita semua untuk menghayati hukum cinta kasih, Dia malahan telah mengasihi kita terlebih dahulu (Yoh 13: 24), di mana kasihNya itulah yang memuncak dalam misteri salib, yakni dengan menyerahkan nyawaNya menjadi tebusan bagi sleuru umat manusia (1Tim 2: 6). Kasih menjadi sifat kharakteristik dalam pelayananNya, demikian juga semua orang yang percaya kepadaNya (Yoh 13: 35).  Hidup dalam kasih berarti hidup di dalam Allah sendiri. Sebab memang Dia adalah kasih (1Yoh 4: 8).

'Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku' (Rut 1: 16). Rut berkata demikian kepada Naomi, ibu mertuanya, karena dia melihat Naomi hidup dalam kasih, bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dalam hidup sehari-hari. Cinta kepada Tuhan dan sesame telah dijabarkan oleh Naomi, seorang perempuan Israel dalam Perjanjian Lama.

 

 

Oratio :

Yesus, limpahkanlah kasihMu selalu bagi kami, dan ajarilah kami untuk selalu siap sedia berbagi kasih dengan sesama.

Yesus, jadikanlah kami pembawa cinta kasih. Amin

 

 

Contemplatio:

 

''Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'.

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening