Jumat dalam Pekan Biasa XXI, 30 Agustus 2013

1Tes 4: 1-8  +  Mzm 97  +  Mat 25: 1-13





Lectio :

Yesus bersabda kepada para muridNya: "pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.

Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

 

 

Meditatio :

Tidak adakah kebijakan dan tenggang rasa? Itulah komentar spontan banyak orang, ketika mendengar perumpamaan ini dikumandangkan.  Bukankah mereka berangkat bersama-sama? Hanya saja sepuluh gadis, yang membawa pelita dan pergi menyongsong mempelai laki-laki, lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Bagaimana mereka ini, sepertinya lima orang dari antara mereka adalah orang-orang, yang baru turun ke dalam dunia, dan apakah mereka belum mengenal dunia kehidupan sehari-hari? Memang pada saat itu belum ada kemacetan lalin, tetapi tidak bisakah diperkirakan akan adanya keterlambatan? Bukankah lambat itu budaya orang-orang Timur? Belum popolarkah teori probabilitas (kemungkinan) pada saat itu? Tak dapat disangkal memang, karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Terlambat dan tidak tepat waktu, memang menyengsarakan sesamanya.

Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Tidak adakah rasa senasib sepenanggungan di antara mereka? Tidak adakah tindakan tolong-menolong antar mereka yang berkelebihan dan berkekurangan?

Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.  Inilah peristiwa yang tidak mengenakkan itu terjadi. Peristiwa  ini sebenarnya tidak akan terjadi, bila setiap orang mau siap sedia dalam menjaga segala kemungkinan yang datang. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.

 

 

Collatio :

Mengejar keselamatan memang memerlukan kedisplinan diri. Kita tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan diri, dan mengabaikan kedisiplinan diri. Lima gadis yang bodoh adalah orang-orang yang mempunyai kemauan dan waktu untuk menjemput sang mempelai. Mereka mempunyai kemuan dan kemampuan, tetapi mereka tidak mempersiapkan diri sepenuhnya, berbeda dengan kelima gadis yang bijak. Injil Minggu kali lalu: 'berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!' (Luk 13), meminta kita untuk tidak menunda-nunda waktu dalam mengejar keselamatan. 'Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat'. Kenapa tidak dapat? Karena memang pintu sudah terkunci.  Kelima gadis bodoh boleh berteriak-teriak meminta pintu dibukakan, tetapi pintu tetap tertutup; walau dia berteriak-teriak bahwa mereka telah datang terlebih dahulu sampai tertidur-tidur, dan bahkan 'kami telah makan dan minum di hadapanmu', pintu akan tertutup selalu.

Mengejar keselamatan, menikmati Kerajaan Surga itu membutuhkan modal yang tidak sedikit; bukan seturut kemampuan kita, melainkan seturut kemauan dan kehendak Dia datang, yang mana datangNya pun tidak dapat kita duga-duga; dan itu memang yang dikehendakiNya, sebagaimana dikatakan sendiri: 'hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan' (Luk 12: 40). Bukan saja dalam menanti kedatangan Kerajaan Surga, dalam kehidupan sehari-hari pun, kita diminta untuk saling mengasihi sesama, bukan seturut kemampuan kita, tetapi seperti Dia mengasihi kita (Yoh 13: 34), yang tentunya dalam kasih untuk menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatNya.

Mungkin terlalu lebar kita mempersoalkan perumpmaan ini dalam meditatio tadi, namun kiranya tidak dapat disangkal, kemauan baik untuk menyambut Dia yang akan datang, tidaklah cukup, bila tidak segera dilakukan; tidaklah cukup juga, bila berhenti pada kemampuan diri, yakni dengan membawa pelita tanpa persediaan minyak dalam buli-buli. Menyambut Dia sang Empunya kehidupan berarti bersiap siaga selalu, memberi hati dan mengarahkan diri hanya kepadaNya terus-menerus sampai Dia datang. 'Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya'.

Berat juga ya?

 

 

Oratio :

Ya Yesus, Kristus, Engkau menghendaki semua orang menikmati kehadiranMu. Engkau akan datang, tetapi kedatanganMu yang pasti saatnya itulah, yang seringkali membuat kami putus asa, mengingat perjalanan waktu, yang begitu panjang dan tidak menentu, dan membuat kami lelah. Bantulah kami, ya Yesus, untuk menjadi orang-orang yang setia. Amin

 

 

Contemplatio:

 

'Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya'.

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening