Kamis dalam Pekan Biasa XIX, 15 Agustus 2013

Yos 3: 7-10   +  Mzm 114  +  Mat 18:21 – 19:1

 

 

 

Lectio :

Pada waktu itu datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.

 

 

Meditatio :

'Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?'.

Suatu pertanyaan yang indah, yang disampaikan Petrus kepada Yesus sang Guru. Petrus sungguh sadar, bahwa mengampuni dan memaafkan sesama tidak cukup hanya sekali. Kita diminta untuk berani memaafkan sesama  sampai tujuh kali; sebuah perhitungan yang relative banyak dalam menghadapi sesame, yang telah berbuat salah kepada kita. Kita diminta untuk berani memaafkan dan memaafkan kesalahan orang lain.

'Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali', tegas Yesus. Yesus meminta para murid, kita semua, untuk selalu berani memaafkan kesalahan sesama setiap kali mereka melakukan kesalahan. Bukan hanya tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali. Kalau mereka jatuh dalam dosa, kita diminta harus berani menegurnya, sebagaimana kita renungkan kemarin, apalagi kalau mereka secara sadar datang kepada kita dan meminta maaf. Kita harus berani memaafkan dan mengampuninya.

Perumpamaan seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta dan mendapatkan pembebasan dan penghapusan hutang  memberikan gambaran tegas, bahwa Allah telah mendahului kita dalam mengampuni dosa, bahkan Dia tidak memperhitungkan besar dosa-dosa. Keberanian kita berterus-terang dan jujur di hadapanNya mendatangkaan rahmat pengampunan yang berlimpah. Bapa di surge, bukan saja mendahului kita dalam pengampunan, malahan Dia berulang-ulang kali mengampuni dan mengampuni segala dosa dan kekurangan kita. Sebagaimana Allah telah mengampuni dosa dan kesalahan kita, yang tidak terhitung jumlahnya itu, demikian juga hendaknya kita berani mengampuni dan memaafkan kesalahan sesama.  Keberani kita memmafkan kesalahan orang lain merupakan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan Allah, yang telah banyak melimpahkan berkatNya bagi kita. Janganlah keengganan kita untuk memaafkan orang lain itu malahan mengundang teguran keras dari Allah. 'Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu', tegas Yesus.

Mengapa kita tidak mengampuninya? Apa hak kita menahan kesalahan seseorang? Bukankah dengan meminta maaf, dia mengakui kesalahannya? Apakah kita mempunyai kewajiban untuk menuntut seseorang yang bertindak salah dan jatuh dalam dosa? Hanya pelanggaran terhadap suatu hokum, seseorang dapat dituntut dan dikenai sangsi. Adanya kita mempunyai hokum moral?

Penegasan Yesus ini mengingatkan bahwa pengampunan dari Tuhan sang Empunya kehidupan ini sungguh-sungguh dapat kita nikmati dalam perjalanan hidup yang berkelanjutan, kalau kita memang berani membagikannya kepada orang lain yang ada di sekitar kita. Kembali, semuanya ini juga mengingatkan, bahwa keagungan dan kemuliaan Allah yang pernah menghantarkan bangsa Israel lewat tengah-tengah laut tetap dapat dirasakan ketika menyebrangi sungai Yordan. Sejauh mereka tetap mengandalkan bantuan Allah, sebagaimana diceritakan dalam kitab Yoshua bab 3. Pengampunan dari Tuhan selalu semakin kita rasakan dalam kebersamaan hidup dengan sesama.


 

 

Oratio :

Ya Tuhan Yesus Kristus, rahmatilah kami selalu dengan kasihMu, agar kami mempunyai jiwa pengampun seperti Engkau sendiri. Amin.

 

 


Contemplatio:

 

'Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?'.

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening