Pesta Yesus menampakkan kemuliaanNya, 6 Agustus 2013

2Pet 1: 16-19   +  Mzm 97  +  Luk 9: 28-36

 

 

Lectio :

Pada suatu hari Yesus  membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.

Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu. Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia."

Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu.

 

 

 

Meditatio :

Ketika Yesus sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan; dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.

Inilah peristiwa sukacita ilahi yang terjadi pada waktu Yesus sedang berdoa. Wajah Yesus tetap sama, demikian juga pakaianNya; yang dimaksud berubah adalah adanya semarak cahaya yang memancar daripadaNya. Inilah perubahanNya. Apalagi ada dua tokoh besar dalam Perjanjian Lama yang mendampingi Yesus, Musa dan Elia. Mereka berbicara tentang tujuan perjalanan hidup Yesus, yang akan tergenapi di Yerusalem, yakni dengan kematian dan kebangkitanNya. Yesus sungguh tahu siapakah Yerusalem itu: 'Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!' (Mat 23: 37-39).

'Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia', kata Petrus melihat dan mengalami kehadiran Yesus dalam kemuliaan-Nya bersama kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu. Petrus berkata demikian, karena kedua orang besar dalam Perjanjian Lama itu hendak meninggalkan Yesus. Kenapa dia berkata demikian? Apakah Petrus juga ingin berbicara dengan Musa dan Elia? Mumpung berjumpa dengan mereka? Kiranya tidak dapat disangkal, betapa bahagia mereka semua memang menikmati kemuliaan surgawi. Kemuliaan dan kenyamanan ini janganlah cepat berlalu. Petrus merasa kepergian Musa dan Elia akan semakin mempercepat selesainya kenikmatan yang mereka alami. Biarlah mereka tinggal selalu dalam kemuliaanNya. Tidaklah sulit mendirikan tiga kemah bagi mereka. Namun Petrus sepertinya juga tidak sadar, bahwasannya mereka tidak membawa perbekalan sedikitpun untuk mendirikan kemah bagi mereka.  Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu.  Ada keinginan tetapi tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.

'Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia', itulah sahutan jawaban yang terdengar dari dalam awan, yang menyelimuti mereka.  Sebuah jawaban yang memberi kepastian bahwa kemuliaan surgawi itu akan dapat dinikmati oleh mereka, bila mereka selalu berani mendengar Yesus, sang Guru mereka. Ini adalah sebuah penyataan dari Allah tentang Siapakah Yesus itu. 'Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri',  yang ditunjuk bukanlah Musa atau Elia, melainkan Yesus. Dia harus didengarkan, karena Dialah Anak, yang kepadaNya Tuhan Allah Bapa di surga, berkenan. Keinginan untuk menikmati kemuliaan surgawi sungguh-sungguh dapat dinikmati hanya dengan mendengarkan Yesus, sebab memang Dia adalah Anak Allah. Keberanian untuk percaya dan mendengarkan Tuhan Yesus sungguh-sungguh mendatangkan keselamatan.

Murid-murid merahasiakan semuanya itu, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu. Mengapa mereka tidak memberitahukan kepada siapapun? Mengapa para Rasul lainnya sebagai satu kolega, juga tidak diberitahu?  Apakah Yesus melarang murid-murid-Nya itu memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias (Mat 16: 20)? Tak dapat disangkal, dalam Gereja purba Petrus dengan getol mewartakan siapakah Yesus itu, tanpa gentar dia meyakinkan banyak orang dengan pengalaman indah yang pernah dinikmati; katanya: 'kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus' (2Pet 1: 17-18). Petrus adalah saksi-skasi kebenaran.

 

 

 

Oratio :

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami untuk hari demi hari semakin setia mendengarkan sabda dan kehendakMu, karena memang sabdaMulah yang menyelamatkan kami. SabdaMulah yang memberi terang kehidupan. Amin.


 

 

Contemplatio:

 

'Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia'.

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening