Rabu dalam Pekan Biasa XVIII, 7 Agustus 2013

Bil 14: 26-29   +  Mzm 106  +  Mat 15: 21-28

 

 

Lectio :

Pada suatu hari Yesus  pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

 

 

 

Meditatio :

'Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita', seruan seorang perempuan Kanaan di daerah Tirus dan Sidon kepada Yesus. Bukannya tidak mendengar seruan perempuan itu, Yesus malahan berdiam diri dan sama sekali tidak menjawabnya. Sebaliknya, para murid yang dibuatnya bising dengan teriakan perempuan itu meminta kepada-Nya: 'suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak'. Seorang perempuan yang di luar wacana mereka, apalagi seseorang yang tidak mengenal Tuhan, berani-beraninya mengganggu perjalanan seorang Guru. Namun sayangnya, mereka tak punya kuasa untuk mengusirnya, karena bukan mereka yang dicari.

Inilah kenyataan hidup, yang  sering jatuh dan jatuh, dan itu pun masih terhimpit oleh tangga. Kita sering berteriak dan teriak kepada Tuhan, tetapi Dia sepertinya berdiam diri, dan terasa tidur di tengah-tengah gelombang yang menghantam perahu kehidupan ini (Mrk 4: 38); bahkan tak jarang dengan lantang kita dengar jawaban yang pahit, seperti yang didengarkan perempuan Kanaan ini: 'Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel';  demikian juga suara orang-orang yang ada di sekitar kita sepertinya hendak memberangus kemauan baik kita untuk bermohon kepadaNya: 'suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak'. Inilah hidup. Hidup di sini dan sekarang, menghirup udara di mana kita tinggal berada. Inilah hidup konkrit, yang seringkali jauh dari kemuliaan di atas gunung, sebagaimana yang kita renungkan kemarin.

'Tuhan, tolonglah aku', pinta perempuan. Dia ditolak, bukannya semakin menjauh dari Dia yang menolaknya, melainkan perempuan itu malahan semakin berani mendekat dan berlutut di hadapanNya dan bermohon. Perempuan ini tidak malu-malu (Luk 11: 8) menengadahkan dalam bermohon kepada Tuhan sang Empunya kehidupan. Perempuan ini sepertinya seorang pejuang. Dia adalah seorang yang amat sangat membutuhkan uluran tangan Tuhan yang berbelaskasih. Hanya satu kata yang dimilikinya tolonglah aku.

'Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing', sahut Yesus yang menantang hambaNya yang sudah lama menderita itu. Dia yang tahu akan kemampuan dan kelemahan umatNya, tidak henti-hentinya meminta setiap orang menjadi setiawan dan setiawati. Apakah Allah sengaja mencobai umatNya? Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus pernah merenungkan, bahwasannya 'pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya' (1Kor 10: 13); dan memang itulah yang pernah dialami perempuan Kanaan itu. Tantangan demi tantangan yang diberikan Yesus tidak meluluhkan ketegaran hatinya untuk bermohon dan bermohon kepadaNya. 'Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya'. Perempuan Kanaan adalah sosok beriman yang tegar dalam derita, teguh dalam percaya, dan tetap kritis dalam menghadapi aneka tantangan.

Yesus menyukai orang-orang seperti ini. 'Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki'. Iman menyelamatkan umatNya. Iman membebaskan seseorang dari sekat-sekat insani dalam mengejar keselamatan. Seketika itu juga anaknya sembuh. Entah di mana anak dari perempuan itu berada, siapa yang memberitahu bahwa anaknya sudah sembuh, janganlah kita persoalkan. Tak dapat disangkal, bahwasannya 'dalam Yesus ada keselamatan'.

Keyakinan bahwa Tuhan akan melakukan segala yang baik, dan membantu umatNya, telah dipraktekkan Musa dalam meneguhkan bangsa Israel yang hendak masuk tanah Kanaan. Hanya iman yang dapat mengalahkan orang-orang Kanaan yang dikenal sebagai bangsa yang kuat dan perkasa itu. 'Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!' (Bil 13). Inilah keyakinan seorang Israel akan perlindungan dan pedampingan Tuhan Allah.

 

 

 

Oratio :

Ya Tuhan Yesus, teguhkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu, terlebih bila sedang menghadapi aneka tekanan dan tentang hidup. Kami mudah putus asa, ya Tuhan. Kami mudah kecewa dan berbalik daripadaMu.

Santo Albertus, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki'.

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening