Selasa dalam Pekan Biasa XX 20 Agustus 2013

Hak 6: 11-24  +  Mzm 85  +  Mat 19: 23-30

 
 
 
Lectio :
Pada waktu itu Yesus melanjutkan pengajaranNya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."
Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

 
 
Meditatio :
'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga'.
Penyataan Yesus ini menimpali sikap orang muda yang banyak hartanya. Dia menginginkan hidup kekal, tetapi ketika diminta untuk menjual harta miliknya dan mengikuti sang Guru, dia bersedih hati dan kecewa. Dia tidak melanjutkan keinginannya untuk menikmati hidup kekal. Dia tidak berkeinginan kembali, karena memang dia tidak ingin kehilangan harta bendanya. Apakah mereka yang tidak mempunyai banyak harta tidak banyak mengalami kesulitan untuk masuk dalam Kerajaan Surga? Kita tidak bisa membalik sebuah penyataan seperti membalik tangan tentunya. Harta benda tak jarang memang menghalangi banyak orang untuk menikmati hal yang lebih indah lagi, yang Tuhan Allah karuniakan.
'Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah', sebuah pernyataan yang hiperbolis disampaikan Tuhan Yesus agar setiap orang tidak mengandalkan kekayaan dalam hidupnya, sebab memang 'hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu' (Luk 12: 15). Penyataan ini tentunya langsung mendapatkan reaksi dari para murid. Mereka menanggapi penyataan itu secara mentah-mentah. Mana mungkin seekor onta memasuki lobang jarum? 'Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin', tegas Yesus.
'Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?',  kata Petrus yang menuntut, karena dia bersama-sama para murid lainnya, merasa telah meninggalkan segala-galanya. Mereka tidak mempersoalkan bagaimana dengan mereka semua, yakni orang-orang yang tidak mempunyai kekayaan, apakah mereka dengan mudahnya memasuki Kerajaan Surga. Mereka hanya memperhitungkan keberadaan mereka sendiri.
'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel', sahut Yesus yang memberi jaminan keselamatan hidup kekal bagi mereka. Demikian juga bagi 'setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal'. Luar biasa limpahan berkat yang diterima oleh setiap orang yang tidak mengikatkan diri pada kekayaan. Sabda Yesus itu secara lurus memang dihayati oleh mereka yang mengikrarkan kaul ketaatan, kemurniaan dan kemiskinan; apakah kelimpahan berkat itu mereka nikmati juga dalam keseharian hidup mereka? Kalau belum tampak, beranikah kita berkata kepada mereka: mohon sabar, sebab memang 'orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu'.
Yakinlah dalam Tuhan Yesus segala-galanya menjadi indah, dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Mrk 9: 23). Itulah yang juga dialami oleh Gideon dalam mendampingi bangsa Israel yang kecil itu, sebagaimana diceritakan dalam kitab Hakim-hakim bab 6.
 

 
Oratio :
Tuhan, mengikuti-Mu berarti meninggalkan segala-galanya yang dapat menghalangi kami untuk bersama-Mu, bantulah kami untuk selalu menyadari bahwa apa yang kami miliki adalah pemberian-Mu, semoga kami tidak lupa diri melainkan semakin menyadari betapa besar kasih-Mu kepada kami, sehingga kami tetap teguh mengabdi-Mu dan melayani sesama. Amin
 
 


Contemplatio:
 
'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.'
 
 
 
 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening