Senin dalam Pekan Biasa XIX, 12 Agustus 2013

Ul 10: 12-22   +  Mzm 147  +  Mat 17: 22-27

 

 

Lectio :

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga."

 

 

Meditatio :

'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan'.

Penyataan inilah yang disampaikan Yesus sekali lagi kepada para muridNya. Mereka sudah pernah mendengarNya (Mat 16: 21), dan kini diucapkanNya kembali. Ini semua adalah kehendak Tuhan Bapa di surga yang mengutus sang PuteraNya yang tunggal. Para murid sepertinya memahami penyataan sang Guru, tidak ada yang memprotesNya, sebagaimana pernah dilakukan Petrus, walau tak dapat disangkal hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Kesedihan mereka amat wajar; tak mungkin mereka bergembira dan bertepuk tangan, ketika mendengar penyataanNya itu.

 

Raja-raja dunia meminta orang-orang asing membayar bea dan pajak, dan bebaslah rakyat yang dipimpinnya. Itulah pandangan masyarakat dan yang terjadi pada waktu itu. Namun, 'bayarlah pajak kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga, supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka dengan mata uang empat dirham yang kamu temukan dari ikan pertama yang kaupancing', tegas Yesus. Program keselamatan, yang mendapatkan tantangan dari tua-tua bangsa Yahudi, tidak menyurutkan hati Tuhan Yesus untuk tetap mentaati aturan hidup bersama dalam masyarakat. Dia merasa wajib membayar pajak. Yesus, yang tahu akan perjalanan hidup, tidak merasa diri menang dan unggul dari yang lain, sebaliknya tetap dengan rendah hati mengikuti segala aturan hidup umatNya, yang terikat pada ruang dan waktu ini. Dia, yang mengatasi ruang dan waktu, mau merundukkan diri di dalam ruang dan waktu.

 

 

Collatio :

          Kesibukan  dalam aneka bidang kehidupan, memang tak dapat disangkal, seringkali bertentangan dengan kehidupan rohani, minimal dengan nilai-nilai moral; apalagi bila seseorang masuk dalam sebuah sistem yang sudah ada dan berlawanan dengan moral kebersamaan. Ada banyak cela-cela kehidupan, di mana kita perlu bertindak konkrit sebagaimana dilakukan oleh bendahara yang tidak jujur (Luk 16: 3-7). Kita harus melakukannya; apakah tindakan itu suatu kejahatan? Apakah semuanya itu bisa dimengerti sebagai tumbuhnya benih-benih koruptif? Apakah pemberian sedikit upah atau ganjaran, karena seseorang telah melakukan sesuatu yang baik, akan memupuk sikap pamrih yang makin hari makin tumbuh dan berkembang? Bukankah dalam pembinaan putra-putri kita tak jarang kita memakai sistem ganjaran, sebab bilamana mereka berbuat baik akan mendapatkan hadiah dari kita? Dalam warta rohani keagamaan ada tindakan juga demikian? Minimal sebagaimana kita renungkan hari ini, agar perbuatan kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, maka Yesus harus membayae pajak, apakah semuanya itu diperhitungkan sebagai taburan benih-benih koruptif? Kiranya penyataan Yesus 'cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya' (Mat 20: 23) menantang kita untuk berani berkata-kata dengan kasih. Aku mengasihi engkau, bukan karena engkau, melainkan karena memang aku mengasihi kamu.

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, ajarilah kami bersikap penuh kasih sebagaimana Engkau telah melakukannya bagi kami. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan'.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening