Kamis dalam Pekan Biasa XXIV, 19 September 2013

1Tim 4: 12-16  +  Mzm 111  +  Luk 7: 36-50






Lectio :

Suatu hari seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.

Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."

Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru".  "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."

Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

 

 

Meditatio :

Suatu hari seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Siapakah orang Farisi yang mengundang Yesus datang makan bersamanya? Dalam acara apa mereka mengadakan makan bersama? Ternyata masih ada orang-orang Farisi yang menaruh hati terhadap sesamanya.

Pada waktu mereka makan bersama,  seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa, yang mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datang dan membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

Peristiwa itu memang amat menyakitkan hati banyak orang. Jujur saja, seandainya kita ikut serta dalam makan bersama itu, tentunya kita pun akan marah dan jengkel akan sikap dan tindakan Yesus yang membiarkan perempuan berdosa itu bertindak seperti itu. Tidak semua orang Farisi percaya dan menghormati Yesus, Guru dari Nazaret itu, tetapi tidak dapat disangkal mereka dalam hati kecilnya mengakui kewibawaan sang Guru ini. Sulit bagi mereka semua melihat Yesus yang membiarkan diriNya dijamah dan dijamah oleh perempuan berdosa.

'Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa'. Itulah komentar Simon, orang Farisi yang mengundang Yesus makan. Sebuah pernyataan yang sungguh-sungguh wajar dan lumrah.

Menanggapi keluh kesah sang tuan rumah, berkatalah Yesus: 'ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?'. Sebuah pertanyaan yang amat mudah dijawab tentunya. Demikian juga kamu, tegas Yesus, 'Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih, tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih'.

Yesus memang tidak menyinggung sedikit pun soal layak dan pantas dari peristiwa itu. Yesus hanya mau menerima ungkapan pertobatan setiap orang yang berani datang kepadaNya. Dia pun tidak memperhitungkan dosa dan kesalahan umatNya. 'Dosamu telah diampuni', tegas Yesus kepada perempuan berdosa yang bertobat itu. Keberanian datang kepada Yesus menurunkan keselamatan bagi dirinya. 'Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!'.

 

 

Collatio:

Paulus dalam suratnya yang pertama kepada Timotius (bab 4) berkata: 'jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda'. Perasaan minder akan membuat seseorang lemah dalam mengambil keputusan dan berat untuk melangkahkan kaki ke masa depan yang lebih baik. Sebaliknya, 'jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. Bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu'. Kemurnian dan kesucian hidup malahan harus selalu dinyatakan dalam hidup sehari-hari, walau tak dapat disangkal ini pun merupakan sebuah salib yang harus dipanggul oleh setiap orang.

Perempuan berdosa yang datang kepada Yesus, bukanlah seseorang yang rendah diri; dia tidak kuatir dan gelisah terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya. Dia datang kepada Yesus, karena memang dia mengharapkan pengampunan dan belaskasih dari sang Guru kehidupan. Dia sadar memang tidak mempunyai bekal ketekunan dan kesucian sebagaimana dinasehatkan Paulus tadi. Dia adalah seorang yang miskin di hadapan Allah, tetapi dia berani datang dan berpaling kepada sang Empunya kehidupan. Perempuan berdosa itu memang adalah seorang pemberani dan cerdas. Dia mampu memilih yang terbaik bagi hidupnya.

Kita bukanlah  perempuan dosa itu, tetapi kita diundang untuk berani datang kepada Yesus, merundukkan diri di hadapan sang Kebenaran hidup agar beroleh selamat. Kita diminta menjadi seorang yang mempunyai selera pemberani.

Kita pun juga bukan seorang Simon, yang mengundang Yesus datang makan ke rumahnya. Namun kita mudah gelisah dan gerah, bila ada sesuatu yang terjadi dan tidak sesuai dengan pakem kehidupan bersama. Perempuan itu berbuat kasih kepada Yesus, karena dia ingin bertobat; tetapi tidaklah demikian dengan Simon yang berbuat baik dengan mengundang makan Yesus. Apakah ada banyak Simon di antara kita yang begitu mudah mengundang banyak orang untuk berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk makan, tetapi dia tidak sedikit pun ada rasa syukur dan pertobatan dalam dirinya? Dunia sedang demam dengan tebar pesona, janganlah terjadi di antara kita.

 

 

Oratio :    

Ya Yesus, ampuni dan perbaharui hati kami, agar kamipun dapat mengampuni mereka yang bersalah kepada kami, supaya tidak menjadi penghalang lagi bagi kami dalam mengasihi sesama.    Amin

 

 

Contemplatio :

'Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!'.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening