Pesta Santo Albertus dari Yerusalem, 17 September 2013


1Tim 3: 1-13  +  Mzm  101  +  Luk 7: 11-17






Lectio :

Suatu hari Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.  Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!"  Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"  Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.  Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya."  Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.




Meditatio :

Anak laki-laki itu dibangkitkan oleh Yesus, bukan karena jasa dan kebaikan dirinya, melainkan karena belaskasih Yesus terhadap ibunya yang telah janda itu. Yesus tidak memperhitungkan siapakah anak laki-laki itu. Yesus hanya menaruh belaskasih terhadap sang ibu, maka setelah dibangkitkan anak muda itu diserahkanNya kembali kepada sang ibu. Belaskasih Ilahi yang diterima sepertinya meneguhkan sang ibu yang memang banyak mendapatkan simpati dari orang-orang sekitar,  yang menemani dia hendak menguburkan anak tunggalnya. Ketidakberdayaan umat selalu mengundang perhatian Allah yang penuh kasih.

"Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita", demikian komentar banyak orang yang mengalami ketakutan penuh sukacita itu.   Mereka kagum terhadap Yesus, yang membuat segala-galanya baik adanya. Dia sungguh-sungguh Nabi besar, karena tidak seperti nabi-nabi lainnya. Dia hadir di sini, dan bukannya tinggal di sana. Semua itu hanya terjadi hanya karena Allah.  "Allah telah melawat umat-Nya", seru mereka yang melihat campur tangan Tuhan dalam diri umatNya.

Segala yang indah dan baik itu berasal dari Allah; dan semuanya itu dapat dinikmati oleh orang-orang yang mau merasakan kehadiranNya sendiri, dan bukan sebaliknya. Pengalaman akan kehadiran Allah itulah yang dituliskan oleh Santo Albertus dari Yerusalem. Sebuah pengalaman bukan semata berdasar pengalaman pribadi, dari yang dialami oleh orang-orang yang tinggal di gunung Karmel, tetapi semata-mata berdasar dari Kitab Suci yang memang adalah pengalaman Umat dalam bergaul dengan Allah.

Pesta Santo Albertus dari Yerusalem kiranya menyatakan kepada kita, bahwasannya pengalaman akan Allah, sebagaimana tertera dalam Kitab Suci harus dan memang bisa dilanjutkan oleh setiap orang yang percaya kepadaNya; bahkan pengenalan kita akan Allah akan semakin nyata bila memang kita mengkonkretkanya dalam hidup sehari-hari. Hidup kita harus mampu menjadi kitab suci bagi orang lain, yakni kalau kita benar-benar menjadi pelaku-pelaku sabdaNya yang kudus.

Pengalaman hidup menjadi bukti nyata seseorang itu mampu menikmati kehadiran Allah atau tidak. Seorang calon penatua,  "janganlah  ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis", tegas Paulus dalam suratnya yang pertama kepada Timoteus. Paulus amat menghormati pertobatan, tetapi kiranya pertobatan itu harus dinikmati relatif cukup lama dalam kehidupan sehari-hari, dan bukannya peristiwa aksidental yang amat-amat sensasional. Maka orang yang ditunjuk sebagai penatua, atau orang yang berpengalaman, benar-benar orang yang sudah menikmati kehadiran Allah. Dia harus mempunyai pengalaman akan Allah dalam hidup. Pengalaman akan Allah mendapatkan perhatian dari Paulus, sebagaimana dituliskan juga dalam regula oleh Santo Albertus, karena pengenalan Allah lebih terasa dinikmati bila dikonkritkan  dalam pengalaman hidup, dan bukannya sebatas pengetahuan akal budi.





Oratio :

Ya Yesus, kehadiranMu selalu menjadikan segala-galanya indah adanya. Buatlah kami semakin berani merasakankehadiranMu dalam setiap peristiwa hidup kami, agar hidup kami pun semakin terasa indah dan menyenangkan.
Santo Albertus, Doakanlah kami agar hidup kami menjadi kelanjutan dari pengalaman hidup para kudus Allah sebagaimana tersurat dalam Kiab Suci. Amin.





Contemplatio :

"Allah telah melawat umat-Nya".










Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening