Rabu dalam Pekan Biasa XXII, 3 September 2013

Kol 1: 1-8  +  Mzm 52  +  Luk 4: 38-44





Lectio :

Pada suatu hari Yesus  meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

 

 

Meditatio :

Ketika Yesus  pergi ke rumah Simon, ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Bila kita berani melihat secara positif, sakitnya ibu mertua Simon menjadi pintu yang terbuka bagi banyak orang mendapatkan rahmat dan berkat Allah. Sebab selain dia sendiri beroleh kesembuhan, ternyata banyak orang membawa datang kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.   Salib yang dipanggul ibu mertua Simon ternyata mendatangkan berkat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Lebih dari itu, semakin banyak orang mengenal siapakah Yesus, Orang Nazaret itu. Kiranya ada sesuatu yang ganjil, tetapi itulah kenyataan hidup, bahwasannya orang Israel, bangsa pilihan Allah, amat-amat terlambat dalam mengenal Orang Nazaret. Mereka semua adalah kaum yang tertinggal kereta api dalam mengenal Allah. Mereka malahan kalah dengan kuasa kegelapan, yang lebih dahulu mengenal kehadiran Orang Nazaret ini. Mereka semua mampu mengenal 'Engkau adalah Anak Allah', tetapi tidaklah demikian dengan orang-orang pilihan Allah. Kendati demikian, Yesus dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Apakah pelarangan itu dimaksudkan agar semua orang mengenal Allah bukan melalui kebaikan kuasa kejahatan? Janganlah nanti kuasa kegelapan menuntut balik kepada mereka, karena telah memperkenalkan mereka kepada Allah?

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Yesus pergi ke tempat sunyi untuk selalu berkomunikasi secara khusus dengan Bapa di surga yang mengutusNya. Doa dan komunikasi dengan sang Empunya kehidupan kiranya menjadi kewajiban bagi setiap orang yang selalu aktif berkarya dalam pelayanan terhadap sesama. Orang banyak mencari Dia, dan menemukan-Nya, lalu mereka berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Mereka menahan Yesus, karena memang banyak orang sangat mengharapkan bantuan daripadaNya. Tetapi Ia berkata kepada mereka: 'Aku juga harus memberitakan Injil Kerajaan Allah di kota-kota lain, bukan hanya di sini, sebab memang untuk itulah Aku diutus'. Yesus pun akhirnya pergi memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

 

 

Collatio :

Mengapa Yesus tidak menyelesaikan dahulu segala persoalan di Kapernaum? Bukankah masih banyak orang yang sakit? Mengapa Yesus meninggalkan mereka? Apakah Yesus tidak gali lobang tutup lobang? Namun apakah pesoalan  hidup dan keselamatan ini hanya berhenti di Kapernaum? Apakah mereka tidak bisa saling melengkapi dan menyempurnakan? Apakah mereka tidak mampu saling meneguhkan dan mendoakan satu sama lain? Bukan keselamatan Allah tidak sebatas pengalaman dan kemampuan insani? Bukankah Allah Bapa mengatasi segala?

Bagaimana kita memahami kehendak Yesus itu dalam perspektif missioner Gereja? Bukankah Kristus meminta setiap orang untuk mewartakan Injil sampai ke ujung dunia? Bagaimana kita harus pergi ke tempat lain, bila memang Gereja kita sendiri berkekurangan? 'Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan' (1Kor 3: 6-7). Kiranya penegasan Paulus ini memberi peneguhan kepada kita dalam mewartakan kabar keselamatan, kemana pun kita harus siap mewartakan Injil Tuhan dan tidak terikat keindahan, bahkan kelemahan Gereja di mana kita berada.

Gereja harus berani tumbuh dan berkembang, karena memang Allah berkarya dalam setiap diri orang-orang yang percaya. Bersama Paulus pun kita hendaknya percaya bahwa setiap orang mempunyai kemampuan yang luhur dan indah untuk melakukan yang baik. 'Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga' (Kol 1:3-5a). Keyakinan Paulus menyemangati mereka untuk menghayati panggilannya.

 

Oratio :

Ya Tuhan, jadikanlah kami pembawa kabar sukacita bagi setiap orang yang kami jumpai disekitar kami, melalui sikap dan perbuatan kami, agar semakin banyak lagi orang yang mengenal Engkau dalam memperbesar GerejaMu.   Amin

 

 

Contemplatio:

'Aku juga harus memberitakan Injil Kerajaan Allah di kota-kota lain, bukan hanya di sini, sebab memang untuk itulah Aku diutus'.

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening