Rabu dalam Pekan Biasa XXIII, 11 September 2013


Kol 3:1-11  +  Mzm 145  +  Luk 6: 20-26





Lectio :

Pada suatu hari Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akanlapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

 

 

Meditatio :

'Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.

Sungguh berbahagialah mereka orang-orang miskin, lapar, dan menangis, sebab merekaakan bersukacita dan bergembira. Berbahagialah mereka yang sekarang ini dibenci, dikucilkan dan ditolak, sebab mereka akan mendapatkan upah besar di surga. Mereka akan mendapatkan perlawanan seperti itu, karena secara demikian para nabi diperlakukan.Yesus bukannya menyetujui bahwasannya harus tetap miskin, lapar dan menangis atau terus menerus dicela, dikucilkan dan ditolak.Yesus tidak meninabobokan umatNya dalam ketidakbahagiaan. Yesus memuji bahagia mereka, karena mereka semua akan mendapatkan sukacita yang sungguh luarbiasa.Mereka dipuji bahagia oleh Yesus, agar mereka tidak tenggelam dalam tantangan dan rintangan yang ada sekarang ini. Habis gelap terbitlah terang.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.

Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

Sebaliknya celakalah mereka yang sekarang ini kaya,  kenyang dan tertawa, demikian juga mereka yang sekarang mendapatkan puji-pujian, ditegur keras olehNya. Yesus mengecam mereka, karena  mereka tenggelam dalam kefanaan dan sia-sia. Mereka lupa akan kodrat diri yang amat lemah dan terbatas itu. Kecaman Yesus bukan ingin mencelakakan umatNya, melainkan sebuah kritik tajam agar mereka ingat akan diri mereka sebagai gambar sang Khalik hidup ini.

Sepertinya apa yang disampaikan Yesus sekarang ini telah diantisipasi dan dinyatakan oleh Maria, sang bunda. Maria pernah menyatakan: 'Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa' (Luk 1: 50-53).Maria memang sungguh-sungguh seorang yang mengenal Allah.



Collatio :

Lalu bagaimana kita sekarang harus bisa memahami diri, bila memang sekarang ini kita  adalah orang-orang yang miskin, lapar dan menangis, belum lagi, bila karena ketidakberdayaan ini, kita harus dibenci, dikucilkan dan ditolak? Tuhan Yesus memang mengarahkan kita pada sukacita, tetapi sejauhmana kita dapat bertahan dan setia dalam keberadaan seperti ini?Tentunya, tidak ada orang yang hidup ini mempunyai cita-cita menjadi orang miskin, lapar dan dirundung duka.

Sebaliknya, bagaimana kita dapat menikmati hidup ini, yang memang bukan karena usaha diri sendiri, kini kita hidup sebagai seorang yang kaya,  kenyang dan tertawa? Bukankah kekayaan dan sukacita adalah anugerah Tuhan, yang memang perlu dinikmati dan dibagikan kepada sesama? Bagaimana kita harus berkata-kata kepada orang-orang yang ada di sekitar kita?

Namun apakah hidup ini bergantung pada kenyataan hidup sekarang ini? Apakah hidup ini ditentukan oleh adanya kekayaan dan kemiskinan? Apakah hidup ini hanya sebatas makan dan minum, yang memang mampu membuat seseorang kenyang dan lapar? Apakah kegembiraan dan kesusahan seseorang juga menentukan keberolehan hidup selamat diakhir jaman?

Kemapanan dan kenyamanan hidup sedikit banyak menenteramkan jiwa raga seseorang dalam menikmati hidup, terlebih bila dia menghayati imannya kepada sang Pencipta, sebab memang kehendak Tuhan Allah, Bapa di surga, yang menyelamatkan umatNya (Mat 12: 50).Demikian juga sebaliknya, kemapanan dan kenyamanan hidup juga bisa menjerumuskan seseorang dalam kebinasaan. Kebahagiaan dan keselamatan seseorang  tidak ditentukan oleh keberadaan seseorang yang lepas bebas, melainkan pada keberadaan dalam kasih sang Ilahi.Berani kita menikmati hidup sekarang ini?  Kiranya peneguhan Paulus dalam suratnya kepada umat di Kolose (bab 3) menjadi kekuatan kita. Paulus mengingatkan: 'bersyukurlah selalu, sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan'Inilah yang harus kita syukuri bahwasannya Kristus Tuhan menjadi jaminan hidup bagi setiap orang yang percaya kepadaNya.

Namun, Paulus tetap tidak menghendaki kita berhenti pada kebanggaan iman yang kita miliki, malahan harus kita nyatakan dalam hidup sehari-hari. Itulah yang diminta Paulus juga kepada kita. Katanya: 'kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, dimana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah. Buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya'.

Berat juga permintaan Paulus, tetapi seperti dikatakan di atas, berani kita menikmati hidup sekarang ini?

 

 

Oratio :

Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur kepadaMu, Engkau mengingatkan kami untuk tidak terlena dalam segala kemampuan yang kami miliki yang bisa membinasakan kami, tetapi Engkau menguatkan kami bahwa pada saat kami mengalami suatu keadaan yang tidak mengenakan kami bisa bertahan dan tetap setia kepadaMu.   Amin


 

Contemplatio:

"Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat'.




 


Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening