Rabu dalam Pekan Biasa XXIV, 18 September 2013

1Tim 2: 14-19  +  Mzm 111  +  Luk 7: 31-35






Lectio :

Suatu hari Yesus berkata: 'dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya'.

 

 

Meditatio :

Orang yang mokong, suka cari menangnya sendiri, yang mbeling, nakalan, yang jugul, keras kepala, yang sak karepe dhewe, semaunya sendiri, sepertinya adalah salah seorang anggota dari angkatan yang disebut Yesus. Sebab mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.  Mereka tidak mempunyai rasa kebersamaan hidup; mereka adalah orang-orang yang tidak mau tahu dengan keberadaan orang lain, mereka tenggelam dalam egoisme diri; malahan sebaliknya, segala sesuatu dan keberadaan orang lain harus disesuaikan dengan kemauan mereka.

'Ketika Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: ia kerasukan setan'. Mereka tidak mengenal sungguh siapakah Yohanes Pembaptis. Yohanes yang melakukan dan mempraktekkan hidup laku tapa yang kuat, malahan dituduh sebagai orang yang kerasukan setan. Yohanes Pembaptis adalah orang yang tidak waras. Demikian juga, ketika  'Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa'. Sebab Yesus tidak mengikuti pakem atau pedoman umum. Dia ini doyanan, makan bersama para pendosa pun dilayaniNya juga.

Apakah Yohanes Pembaptis memang seorang yang kerasukan setan? Apakah dia memang orang yang tidak waras? Apakah Yesus memang seorang yang rakus? Apakah Yesus tidak pernah belajar discretio spirituum?  Ini semua adalah pertanyaan-pertanyaan bodoh. Tentunya tidak, jawabannya, karena memang hanya mereka saja, angkatan yang tidak percaya ini, yang berkata-kata demikian, baik tentang Yohanes maupun Yesus. Mereka adalah orang-orang yang mengukur dan menilai orang lain sesuai dengan kemauan mereka.

'Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya'. Program penyelamatan manusia oleh Allah tidak berhenti pada kemauan mereka, yang menolaknya. Kebenaran akan disampaikan terus kepada setiap orang, tanpa terkecuali. Malahan biji gandum dibiarkan tumbuh bersama dengan ilalang. Karya keselamatan tidak dipaksakan, melainkan sebagai tawaran baik bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Barang siapa percaya kepadaNya akan beroleh selamat.

 

 

Collatio:

Yesus dalam perjalanan hidupNya, bukannya selalu berhadapan dengan orang-orang yang setuju banget dengan program keselamatan yang diembanNya. Yesus malahan berhadapan dengan orang-orang yang bertolak belakang dengan cita-citaNya, dan bahkan dengan mereka yang melawan kemauan baikNya, bukan saja secara diam-diam malahan secara frontal. Namun kendati demikian, Yesus tetap mampu dan setia memandang mereka apa adanya. Yesus tidak meniadakan keberadaan orang-orang yang ada di depanNya, justru dengan kelembutan hati Dia memanggil dan memanggil setiap orang untuk datang kepadaNya.

Menerima keberadaan orang lain apa adanya, kiranya bukanlah soal moral dan etika hidup bersama. Menerima keberadaan lain apa adanya adalah sikap Yesus sendiri dalam mengemban tugas perutusanNya. Maka kiranya keberanian kita untuk memandang dan menerima orang lain, yang banyak tidak sesuai dengan keinginan dan gambaran kita, adalah sebuah sikap yang meneladan sikap Allah sendiri. Kontemplatif adalah sebuah sikap hidup bersama.

Paulus dalam suratnya yang pertama kepada Timotius (bab 3) mengatakan: 'sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita, bahwasannya Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan'. Keagungan Tuhan yang mahakasih bukanlah untuk ditakuti, sehingga setiap orang enggan menikmatiNya. Karena memang Dia penuh kuasa, sebaliknya Dia, yang agung dan mulia itu sendiri, yang merendahkan diriNya, dan kita diminta untuk berani menyambutNya, dan membiarkan Dia selalu tinggal di antara kita.

 

 

Oratio :    

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami selalu untuk memahami kehendakMu yang  menyelamatkan. Engkau dengan setia memanggil dan memanggil kami yang selalu membantah dan melawan kehendakMu. Mampukan kami, agar kami memiliki hati seperti Engkau yang sanggup menerima keberadaan orang lain apa adanya.    Amin

 

 

Contemplatio :

'Aku berkata kepadamu: hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya'.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening