Senin dalam Pekan Biasa XXIII, 9 September 2013

Kol 1:24 – 2:3  +  Mzm 62  +  Luk 6: 6-11






Lectio :

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri.  Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

 

 

Meditatio :

'Aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'.

Inilah pertanyaan Yesus yang diajukan kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang memang sengaja mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Semua diam dan tidak seorang pun mampu menjawab pertanyaan Yesus. Kemungkinan besar mereka bias menjawab, karena memang mereka bukanlah orang-orang bodoh, tetapi apabila mereka menjawabnya secara benar,  mereka tentunya malah merasa malu, sebab terbongkarlah kejahatan mereka yang  memang  hanya ingin mencari-cari kesalahan sang Guru.

Sembari memandang mereka semua, Yesus berkata kepada orang sakit itu: 'ulurkanlah tanganmu!'.  Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.  Tidak ada yang sulit bagi Yesus dalam melakukan segala yang baik dan indah. Melihat apa yang dilakukan Yesus,  meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. Ketidakmampuan mereka untuk menjawab pertanyaan Yesus malah dibuatNya tak berdaya dengan menyembuhkan orang itu di hari Sabat,  yang memang tidak boleh melakukan segala kegiatan apapun. Yesus tidak mentaati mereka, orang-orang yang duduk di kursi Musa.





Collatio :

Yesus pada jamanNya menjadi batu sandungan bagai banyak orang, karena memang Dia mengajarkan kebenaran; bahkan tak segan-segannya mereka hendak membinasakan Dia sang Empunya kehidupan itu. Memang menerima pengajaran baru oleh sang Guru, bukanlah hal yang mudah; tah ubahnya seseorang yang begitu  bangga dengan anggur tua, tetapi sulit untuk berani menikmati anggur baru (Luk 5: 39). Mereka tidak mau menikmati anggur baru, bukan karena rasa anggur, tetapi hanya sebatas rasa nikmat yang dimilikinya.

Menerima Kristus berarti menerima keberadaan Kristus yang hidup. Hidup Kristus yang bagaimana? Yang menderita sengsara, disalibkan dan bangkit dari alam maut. Menerima Kristus, tidak cukup ketika Dia mengadakan aneka mukjizat pergandaan roti dan penyembuhan orang-orang sakit; Dia, yang ditolak oleh orang-orang di daerah asalNya, yakni Nazaret, juga harus siap dialami oleh mereka semua yang ingin menjadi muridNya. Paulus berkata:  'sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat' (Kol 1). Adakah hidup Kristus yang tidak sempurna? Paulus berkata begitu, karena dia ingin menterjemahkan makna penderitaan Kristus benar-benar dalam dirinya. Yesus yang dihukum dan disalibkan di tengah-tengah bangsa Israel, sebaliknya Paulus hendak menunjukkan derita yang dialami  di luar kaum Israel. Paulus ingin hidup seperti Kristus sendiri hidup. Aku ingin hidup selalu, tetapi bukan aku yang hidup, tetapi Kristuslah yang hidup dalam diriku.

Nikmatilah hidup Kristus yang menyelamatkan itu. 'Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!', pesan Paulus kepada kita semua. Keberanian menikmatiNya akan mendapatkan pelbagai anugerahNya yang indah, 'sebab di dalam Dia tersembunyi segala kekayaan dan keyakinan pengertian dan rahasia Allah, dan segala harta hikmat dan pengetahuan'.


 

Oratio :      

Ya Tuhan Yesus, sungguh tidak mengenakkan memang pertanyaanMu tentang apa yang boleh dilaksanakan di hari Sabat, menyelamatkan atau membinasakan, jika itu Engkau arahkan juga kepada kami. Namun ada baiknya juga, Engkau menyampaikannya kepada kami, sebab tak jarang kami tak mau tahu dengan kepentingan orang lain. Kami egois.

Yesus, kasihanilah kami.  Amin.



 

Contemplatio :

'Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'.



 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening