Senin dalam Pekan Biasa XXVI, 30 September 2013

Za 8: 1-8  +  Mzm 102   +  Luk  9: 46-50





Lectio :
Pada suatu kali timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."
Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu."
 
 
Meditatio :
Pada suatu kali timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.
Inilah suatu penyakit hidup bersama; akan muncul persaingan satu sama lain, dan tak jarang seseorang menjegal sesamanya, karena iri hati dan tidak mau dan tidak mampu melihat orang lain sama dengan dirinya, atau malah lebih daripada dirinya, dan sebaliknya seseorang ingin menguasai sesamanya.
Mengapa kalian gelisah apabila kalian direndahkan? Jaganlah kuatir dan gelisah bila orang lain merendahkan dirimu. Sebab barang siapa sadar diri dan menerima dengan tulus ikhlas bahwa dirinya di rendahkan dan tidak di indahkan sesamanya, dia tidak marah dan balik meremehkan sesamanya, dia akan mendapatkan kemuliaan dan Keagungan Ilahi.'Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar', tegas Yesus. Kalau Yesus saja berkata: 'barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku',  apalagi kalau kamu yang bukan lagi anak kecil, dan malahan kamu telah ambil bagian dalam karya pelayanan terhadap sesama, tentunya Tuhan akan semakin melimpahkan rahmat dan berkat bagiMu.  Sesorang yang mempunyai jabatan tinggi tidak sekaligus  mempunyai keagungan dan keluhuran diri, sebab keagungan seseorang bukanlah berdasarkan jabatan yang dimiliki, melainkan bergantung keberanian dia dalam berbagi kasih dengan sesama.  Seseorang yang siap melayani dan membantu sesamanya, dialah yang terbesar dalam hidup ini (Mat 23: 11).
'Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita', kata Yohanes. Pernyataan Yohanes masih di latar belakangi persoalan mereka, yakni siapakah yang terbesar di antara mereka. Mereka semua, para murid, sepertinya merasa diri hebat dan mempunyai kelebihan semenjak mereka hidup dekat dengan Yesus. Mereka semua merasa hebat, tetapi siapakah yang terbesar di antara mereka. Kalau mereka saja sudah merasa hebat, bagaimana mungkin masih bisa menerima orang lain yang berbeda dengan mereka, apalagi mereka tidak satu komunitas hidup, dan bahkan mempunyai kehebatan yang sama.
'Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu', sahut Yesus. Jawaban Yesus sungguh-sungguh mengingatkan dan mengajak para murid, dan kita semua, untuk berani menerima orang lain apa adanya. Komunitas-komunitas kita adalah komunitas yang baik dalam menghidupkan Gereja, dan mengajak setiap orang untuk semakin berani menanggapi kehendak Tuhan. Namun baiklah, masing-masing komunitas tidak merasa lebih unggul dan hebat dari komunitas lain. Komunitas yang merasa dirinya paling benar dan paling baik adalah komunitas yang tidak digerakkan oleh Roh Kudus, sebab Allah selalu mengajak setiap orang untuk merendahkan diri terhadap sesamanya, dan siap menjadi pelayan bagi sesamea. Sebaliknya komunitas harus berani melihat bila ada komunitas lain lebih mampu melakukan sesuatu dengan lebih baik dan mampu semakin membawa banyak orang dekat dengan Tuhan sang Empunya kehidupan.
 
 
Collatio :
Keinginan untuk dihormati dan keenggan untuk menerima keberadaan orang lain itu berpusat pada egoisme diri yang berlebihan. Seseorang mengukur segala-gala dengan dirinya sendiri. Tidak ubahnya dia mengangkat berat beban sebesar 5 kg, padahal berat beban yang telah ditimbang itu sebesar  4 kg. keberanian seseorang untuk keluar dari diri sendiri dan mampu memandang orang lain apa adanya akan semakin tumbuh dan berkembang bila dia berani belajar hidup dari kitab suci, yang memang adalah sabda dan kehendak Tuhan sendiri. Pernyataan Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius menegaskan: 'hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran'.
Kitab suci bukan hanya memberi pengajaran moral dalam hidup bersama, melainkan dan terlebih-lebih mengajarkan sabda dan kehendak Tuhan, di mana dari sabda dan kehendakNya inilah yang harus dijabarkannya dalam hidup sehari-hari. Maka benarlah yang dikatakan Santo Hironimus, yang kita peringati hari ini: tidak mengenal kitab suci berarti tidak mengenal Kristus Tuhan sang Empunya kehidupan.
 
 
Oratio :      
Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk senantiasa bisa menghargai orang lain seperti Engkau sendiri yang selalu memandang semua orang berharga di mata Mu, mereka sangat Kau perhatikan,  dan pelihara terutama mereka yang lemah dan tak berdaya. Mampukan kami. ya Tuhan. Amin
 
 
Contemplatio :
'Barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu'.
 
  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening