Fw: Rabu dalam Pekan Biasa XXVIII, 16 Oktober 2013

Rom 2: 1-11  +  Mzm 62  +  Luk 11: 42-46




Lectio :
Suatu hari Yesus menegur mereka yang ada di sekelilingNya: 'celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya'.
Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga." Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun".
 
 
 
Meditatio :
Kalau kemarin Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan, karena memang Dia hendak mengecam kemunafikan hidup orang-orang Farisi. Hari ini Yesus kembali tampil dan mengecam kemunafikan mereka dan membuat rincian perbuatan dan tindakan mereka, yang memang benar-benar hanya sekedar mencari kepuasan dan nama diri.
Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
Mereka hanya melakukan segala yang menjadi kewajiban mereka sebagai orang-orang yang bercocok tanam, sedangkan tugas pokok mereka dalam kebersamaan hidup, mereka abaikan. Hukum cinta kasih Allah yang semenjak semula telah tertera dalam hukum Taurat sebagaimana dikehendaki Musa tidaklah mereka lakukan. 'Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN' (Im 19), tidak mereka lakukan. Hukum yang memberi kehidupan yang sebenarnya malah tidak mereka lakukan. Hukum Tuhan yang menyelamatkan dan bukannya membayar persepuluhan hasil bercocoktanam.
Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.
Mereka dikecam habis-habisan, karena mereka hanya mencari muka. Mereka hanya tebar pesona, tetapi tidak banyak melakukan apa-apa. Mereka mencari penghomatan dan kepuasan diri, yang tentunya otomatis mereka tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Egoisme diri yang ditonjolkan.
Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.
            Mereka bukan saja tidak mau memperhatikan kepentingan bersama, malahan mnjadi batu sandungan yang mencelakakan orang lain. Tidak menginjak-injak makam adalah sebagai wujud penghormatan terhadap mereka yang telah meninggal, tetapi tidak dilakukan oleh banyak orang karena tanda makan mereka hilangkan; atau dalam arti yang lebih luas, mereka itu melakukan segala sesuatu yang baik dan indah, tetapi semuanya itu dimaksudkan untuk mengelabui dan mencari keuntungan dari sesamanya.
'Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga', saahut para ahli Taurat, karena dari antara orang-orang Farisi itu adalah ahli-ahli Taurat, dan apa yang Yesus sampaikan memang telah tertera dalam hukum Musa, dan memang semua orang sebenarnya harus sudah tahu, terlebih lebih mereka yang mengakui dirinya paham kitab suci. Mendengar komentar mereka, Yesus bukannya mengalihkan persoalan malahan dengan tajam menegur mereka, kataNya: 'celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun'. Yesus menegur seperti itu, sebab merekalah orang-orang yang tahu kitab suci. Mereka yang seharusnya terlebih dahulu mengajarkan kepada sesamanya, dari merekalah semua orang harus tahu apa yang akan mereka lakukan, merekalah yang  seharusnya menjadi orang-orang pertama dan berdiri di baris terdepan dalam melakukan hukum cinta kasih itu. Mereka hanya mengajarkan tetapi tidak melakukan, tidak ubahnya mereka memberi beban kepada sesamanya.



Collatio:
Teguran Yesus mengingatkan kepada orang-orang Farisi, agar mereka benar-benar berani berbuat baik kepada sesamanya, terlebih segala kebaikan yang mereka terima dari sang Empunya kehidupan dimaksudkan agar mereka semakin berani menemukan kehadiran Tuhan dalam diri sesama mereka. 'Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?', tegas Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma, yang tentunya juga bagi kita semua. Seperti yang kita renungkan kemarin, keikhlasan jiwa benar-benar menjadi prasyarat bagi setiap orang untuk melakukan segala sesuatu. Tanpa keikhlasan hati dan jiwa, tidak ubahnya, kebaikan yang kita lakukan adalah sebuah kemunafikan diri, sebab memang kita tidak melakukan sesuatu, malahan apa yang kita lakukan itu hanya untuk kepuasan diri. Kita bukannya memberi, melainkan meminta dari sesama.
'Tuhan Allah akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman' (Rom 2: 6-8), tegas Paulus. Semua orang diundang untuk berani melakukan kebaikan kepada sesama, sebagai wujud kasih persaudaraan. Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia, tegas Yakobus juga kepada kita semua. Para ahli Taurat merasa terpojokkan juga oleh teguran Yesus, demikian juga kita semua yang diperkenankan menikmati talenta dan anugerahNya yang lebih banyak dibanding orang lain.
 
 
 
Oratio :    
Ya Yesus, Engkau adalah Kasih, kasih adalah korban. Maka kami mohon, ya Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, kobarkanlah semangat cinta dalam hati kami, agar kami Kau mampukan untuk benar-benar bisa memperhatikan apa yang paling utama dan penting dalam hidup ini, yaitu berbagi kasih dengan sesama. Amin
 
 
Contemplatio :         
'Kalian membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi janganlah kalian mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan, dan yang lain jangan diabaikan'.
 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010