Kamis dalam Pekan Biasa XXX, 31 Oktober 2013

Rom 8:  31-39  +  Mzm 109  +  Luk 13: 31-35

 




Lectio :

Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau."  Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.  Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.  Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti  induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi  kamu tidak mau.  Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata:  Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!".

 

 

Meditatio :

'Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau'.

Itulah permintaan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Aneh juga permintaan mereka ini. Mengapa mereka memberitahukan keinginan Herodes kepadaNya? Mengapa mereka malahan tidak menggunakan kesempatan ini untuk semakin menyerang Dia? Bukankah peluang untuk membinasakan Guru dari Nazaret ini semakin mendapatkan legitimasi dari pemerintah? Apakah mereka sadar bahwa Mesias adalah milik kami, dan kami adalah bangsa terpilih, dan bukankah memang 'Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh' (Mat 16: 21), bukankah semua itu terjadi pada kami dan bukan pada Herodes?

'Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu', sahut Yesus tanpa gentar sedikitpun kepada mereka, 'Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai, tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem'. Penegasan Yesus sungguh-sungguh mengingatkan dan mengembalikan, bahwa semua yang akan terjadi pada diriNya, bukanlah sesuai dengan kemauan umatNya, melainkan pada kehendak dan kemauan Dia, Bapa di surga, yang mengutusNya. Tidak seorang pun berhak dan mampu membunuh diriNya, karena memang Dia sang Hidup. Namun dengan sukarela 'Ia akan menundukkan kepala-Nya, tanda ketaatan dan keberundukanNya kepada Dia yang mengutusNya, dan menyerahkan nyawa-Nya'  (Yoh 19: 30).

Demikian juga tentunya bagi setiap orang yang merundukkan diri di hadapan sang Kehidupan, bahkan mengikatkan diri dalam kematian dan kebangkitan bersamaNya, tak ada kuasa yang dapat memisahkan mereka, dan kita semua, dari Dia. 'Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?  Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita' (Rom 8: 35.38-39). Keyakinan Paulus kiranya menjadi keyakinan kita bersama.

'Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti  induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi  kamu tidak mau', tangisan Yesus terhadap Yerusalem. Namun kiranya keberadaan Yerusalem harus tetap dipertahankan, walau mereka membunuh para Nabi, tak ubahnya Yudas Iskariot pun tetap dihormati keberadaannya di sekitar Anak Manusia selama hidupnya. Apakah keberadaan Yerusalem dan Yudas hendak menunjukkan bahwa ada yang berbeda dengan aku, bukan aku sendiri yang ada di dunia ini, ada yang lain, yang berbeda dengan aku?   

'Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata:  diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!'. Penyataan Yesus ini disampaikan karena memang kedatanganNya yang dielu-elukan oleh orang-orang Yerusalem (Yoh 12) adalah awal penerimaan Yerusalem secara terbuka terhadap sang Empunya kehidupan. Semua orang bersorak-sorai mengacungkan dedaunan menyambut sang Raja yang datang dengan mengendarai seekor keledai, dan melanjutkannya dengan memanggul salib, tempat Dia menarik semua orang untuk datang kepadaNya (ay 32). Dia menarik semua umatNya agar semua orang beroleh keselamatan.

 

 

Oratio :              

Ya Tuhan Yesus, Engkau setia dalam mengasihi kami sampai rela wafat di salib. Biarlah kami semakin menghayati akan kasihMu, dan kami hari demi hari semakin berani memandang dan berjumpa dengan sesama, yang berbeda dengan kami.  

Santa Maria, doakanlah kami, agar kami semakin merasakan bahwa diri kami ini adalah milik Puteramu, Tuhan kita Yesus Kristus. Amin





Contemplatio :           

'Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti  induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya'









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet