Minggu dalam Pekan Biasa XXX, 27 Oktober 2013


Sir 35:  12-18  +  2Tim 4: 6-18  +  Luk 18: 9-14




Lectio :

Pada waktu itu kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:  "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

 

 

Meditatio :

Yesus menegur keras beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain.

Mengapa Yesus menegur mereka? Yesus menegur mereka, karena mereka tidak memperhatikan sesamanya, mereka mau menangnya sendiri, mereka meremehkan orang lain dan menganggap sesamanya tak berharga. Mereka merasa diri benar, yang kemungkinan besar, bila sikap ini ditindaklanjuti atau dibiarkan begitu saja,  mereka akan menyingkirkan dan membuang sesamanya. Yesus menegur mereka, karena mereka tidak menghayati cinta kasih yang menyelamatkan jiwa setiap orang. Yesus perlu menegur mereka, karena sikap dan tindakan mereka itu tidak ubahnya suatu perlawanan terhadap kasih dan kehendak Tuhan sang Pencipta: 'segala yang tidak engkau lakukan untuk saudaraKu yang paling hina ini, Engkau juga tidak melakukannya bagiKu' (Mat 25). Allah menghendaki setiap orang saling mengasihi satu sama lain, Allah menghendaki semua orang menjadi satu kawanan domba yang menikmati rumput hijau.

'Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini'. Inilah perumpamaan yang diberikan Yesus. Dengan perumpamaanNya ini, Yesus menegaskan: 'barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'. Bagi orang-orang yang ditinggikan oleh Allah, segala doa dan hidupnya selalu mendapatkan perhatian dari Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. Hanya orang yang merendahkan dirinya akan dibenarkan oleh Allah.  

'Doa orang yang terjepit didengarkan-Nya. Jeritan yatim piatu tidak diabaikan-Nya, ataupun jeritan janda yang mencurahkan permohonannya. Tuhan berkenan kepada siapa yang dengan sebulat hati berbakti kepada-Nya, dan doanya naik sampai ke awan. Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya' (Sir 12). Doa-doa mereka sampai ke hadapan Allah, karena mereka adalah orang-orang yang benar-benar membutuhkan kerahiman dan kasih Allah. Mereka adalah orang-orang yang bersandar kepada Allah.

Namun mengapa orang-orang yang sudah mapan hidupnya tetap mendapatkan pengabulan doa? Mengapa doa-doa mereka yang miskin-papa tidak mendapatkan perhatianNya? Mengapa ternyata masih ada kemiskinan dan kemelaratan, ada sakit dan derita? Di manakah makna sebuah doa?

Hari ini Yesus tidak membicarakan makna sebuah doa. Yesus juga tidak berbicara tentang orang miskin dan melarat. Yesus berbicara tentang kerendahanhati setiap orang dalam pergaulan dengan sesama, terlebih-lebih di hadapan Tuhan sang Empunya kehidupan ini. Terkabulnya doa memang tidak bergantung pada kekayaan dan kemiskinan seseorang; sebaliknya kerendahan hati akan membuat seseorang berani merundukkan diri di hadapan Tuhan, dia mengakui dengan sadar sebagai seorang yang tak berdaya dan papa, dia memohon bantuan dari Tuhan Allah.

 

 

 

Oratio :                        

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami selalu untuk belajar bersikap rendah hati dalam pergaulan kami sehari-hari. Jujur, kami seringkali mencari menangnya sendiri dan meremehkan sesame, terlebih mereka yang miskin, sakit dan bodoh.

Yesus, bantulah kami selalu dengan rahmat dan kasihMu.   Amin




Contemplatio :                     

'Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010