Sabtu dalam Pekan Biasa XXVII, 12 Oktober 2013

Yl 3: 12-21  +  Mzm 97  +  Luk 11: 27-28





Lectio :

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

 

 

Meditatio :

'Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau', seru seorang perempuan kepada Yesus. Sebuah seruan yang memang berisi pujian dan kebanggaan. Siapakah yang tidak bangga mempunyai seorang anak yang berhasil dan mempunyai kedudukan social tinggi? Kesuksesan seorang anak adalah keberhasilan orangtua dalam mendampingi dan mengantar anaknya; terlebih-lebih sukacita seorang ibu, yang memang mengasuh anaknya itu semenjak ada dalam rahimnya. Hati seorang ibu terhadap anak-anaknya memang tidak bisa terkalahkan oleh orang lain. Hati seorang ibu pun mampu merangkul seorang anak, yang mungkin tidak pernah tinggal dalam rahimnya, karena memang hati adalah tempat tinggal yang nyaman dan membahagiakan bagi setiap jiwa dan hati. Rahim seorang ibu memang tempat yang membahagiakan bagi sang buah hati, tetapi tidak dapat disangkal Rahim sekaligus membatasi gerak seorang anak untuk mengungkapkan sukacita yang dialaminya. Yohanes terpaksa harus menendang-nendang bilik rahim sang ibu, ketika dia mendengarkan sapaan sukacita dari Maria, yang memang telah menerima Yesus terlebih dahulu dalam hatinya, baru dalam rahimnya. 'Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan' (Luk 1: 42-44). Ucapan Elizabet adalah ungkapan keluasan hati ketika menerima kunjungan seorang Maria. Sukacita hati yang terluapkan itu berisikan lompatan sukacita sang buah hati yang ada dalam rahimnya. Lompatan Yohanes dalam Rahim sang ibu adalah bagian kecil dari kasih ilahi yang dirasakan dan dinikmati Elizabet dalam hatinya.

Ucapan Yesus: 'yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya' menegaskan bahwasannya mereka yang menerima kehadiran Yesus dalam hatinya orang-orang yang merasakan kebahagian dan sukacita ilahi. Mereka memang tidak membatasi kehadiran Yesus dalam rahimnya, tetapi lahan mereka membiarkan Yesus, yang hadir dalam sabdaNya, tinggal dan menetap dalam hatinya. Orang-orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan memeliharanya adalah mereka yang menerima kehadiran Yesus selalu dalam hatinya. Mereka membiarkan hati mereka menjadi tempat kehadiranNya. Memang tidak dapat disangkal, apa yang dikatakan Yesus itu dihayati sungguh-sungguh oleh orang-orang yang meneladani Maria, yang selalu 'menyimpan segala perkara Tuhan di dalam hatinya dan merenungkannya' (Luk 2: 19).




Collatio :

Setiap orang ingin hidup bahagia, tetapi seringkali kebahagiaan itu diartikan dalam bentuk keduniawian, harta kekayaan, pangkat, titel dan banyak lagi embel-embel  lainnya. Tetapi apakah  semuanya itu membuat seseorang menjadi bahagia? Banyak orang yang memiliki harta kekayaan berlimpah,  tetapi hidup keluarganya menjadi berantakan bahkan terjadi perceraian. Jadi sebenarnya kebahagiaan itu yang seperti apa?

Injil hari ini menunjukkan, bahwa kebahagiaan adalah keberanian seseorang untuk mendengarkan dan memelihara sabda Allah.  Bunda Maria disebut yang berbahagia, karena selalu taat dan setia melakukan kehendak Allah. Sukacita Maria, bukanlah sebatas dia dapat mengandung,  melahirkan, menyusui dan membesar sang Anak Manusia, sebaliknya dia dapat mengikuti apa yang menjadi kemauan dari sang Buah hati. Jiwa yang harus ditembus pedang (Luk 2: 35) tidak mampu menghentikan tekad bulatnya untuk tetap setia mendampingi sang Putera, bahkan dengan penuh kepedihan dia berdiri di kayu salib memandang dan memandang sang Mesias; yang memang pada akhirnya, Maria dahulu yang pernah menggendong sang Bayi mungil dan manis, kini harus kembali berani membopong Anak Manusia (Pieta), yang telah menyerahkan nyawa menjadi tebusan bagi umat manusia.

Maria, bukanlah seorang ibu yang sempat  mengandung,  melahirkan, menyusui dan membesar sang Anak Manusia, melainkan juga seorang yang berani mendengarkan Sabda yang telah menjadi Manusia.




Oratio :       

Ya Tuhan Yesus, kami juga mendambakan kebahagiaan sejati bersama Engkau. Bantulah kami, agar senantiasa merenungkan dan mengutamakan kehendakMu dalam hidup kami.   Amin

 


Contemplatio :

'Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya'.

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010