Selasa dalam Pekan Biasa XXVII, 8 Oktober 2013

Yun 3: 1-10  +  Mzm   +  Luk 10: 38-42






Lectio :

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

 

 

 

Meditatio :

'Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku'.

Itulah keluhan seorang Marta kepada Yesus, ketika merasa sibuk melayani Yesus seorang diri. Dia merasa jengkel dan gelisah ketika melihat Maria mulai dari tadi duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Marta memang tidak menegur saudarinya itu supaya membantu dirinya. Marta malahan menegur Yesus, agar Yesuslah, Orang yang menjadi pusat perhatian itu, mengingatkan saudarinya. Kamu bantu dulu Marta, nanti kita lanjutkan lagi pembaicaraan kita. Kata-kata seperti inilah yang kiranya harus diucapkan Yesus kepada Maria saudarinya. Sebab hanya sang Guru yang dapat memperhentikan semunya ini, dan membuat suasana semakin baik. Apakah relasi Marta dan Maria sedang berada dalam perang dingin,  sehingga Marta tidak berani menegurnya langsung? Apakah Maria juga tidak sadar sama sekali bahwa saudarinya Marta sibuk melayani seorang diri?

'Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya', sahut Yesus. Suatu jawaban yang sepertinya membenarkan sikap dan tindakan Maria, dan menyalahkan apa yang dilakukan Marta. Tidak terlalu salah memang pendapat seperti ini. Menyambut Yesus yang datang ke rumah kita, memang tidak selalu harus dilakukan dengan aneka kegiatan atau aneka kesibukan. Menyambut Yesus berarti memberi hati kepadaNya, mendengarkan apa yang disampaikan kepada kita; dan inilah memang bagian yang terbaik, yang tak mungkin diambil alih orang lain. Menyambut Dia hanya dapat kita lakukan, kalau memang kita berani memberi waktu dan perhatian untuk mendengarkan suaraNya. Kita tidak bisa titip pendengaran kepada seseorang. Hidup akan semakin bermakna, kalau kita berani kembali pada Sumber kehidupan itu sendiri, yang Anak Manusia yang datang ke tengah-tengah umatNya.

Mendengarkan sabda dan kehendakNya memang mendapatkan banyak keuntungan. Keberanian itulah yang dilakukan raja dan rakyat Niniwe yang berani mendengarkan sabda dan kemauan Tuhan melalui Yunus. Mereka dengarkan apa yang dikehendaki Tuhan, dan mereka berbalik dari jalan yang dilakukannya; mereka mau kembali kepada sang Sumber kehidupan, maka Allah membatalkan kehendakNya untuk menghancurleburkan kota mereka. 'Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya' (Yun 3: 10).

 

 

Oratio :    

Tuhan Yesus, untuk mengetahui dan memahami kehendakMu, kami memang harus mendengarkan sendiri sabda dan kehendakMu. Tidak cukup, dan kami akan mengalami kesulitan, kalau kami hanya mendengarkan sabda Tuhan melalui atau kata orang. Bantulah kami, ya Yesus, untuk semakin hari semakin berani mendengarkan sabda dan kehendakMu. Berbicaralah, hambaMu siap mendengarkan.  Amin.

 

 

Contemplatio :

'Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet