Senin dalam Pekan Biasa XXIX, 21 Oktober 2013

Rom 4:  20-25  +  Mzm  +  Luk 12: 13-21




Lectio :

Suatu hari seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."

Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

 

 

Meditatio :

'Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku'.

Itulah pertanyaan salah seorang murid kepada Yesus. Mengapa dia bertanya demikian kepada Yesus? Apakah dia sedang bertengkar dengan saudaranya? Apakah seorang guru juga berbicara tentang kepemilikan harta benda? 'Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?', tegas Yesus kepadanya. 'Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu', sambung Yesus. Yesus sungguh menangkap apa yang terjadi di antara mereka. Ada pertengkaran dalam keluarga untuk berbagi soal harta. Ada ketidakberesan dalam menikmati harta benda yang dimiliki oleh sebuah keluarga.

Setiap orang memang harus mempunyai bekal dalam hidup. Setiap orang harus mempunyai harta benda, walau amat relative jumlah banyaknya yang dimiliki berbeda satu dengan lainnya, dan seseorang dibanding dengan lainnya. Orang malahan harus bekerja untuk mendapatkan harta benda. La cikais la man (Brastagi), barangsiapa tidak bekerja janganlah dia makan. Seseorang harus bekerja dan bekerja untuk mendapatkan harta milik. Harta milik menopang kenyamanan hidup seseorang, walau tak dapat disangkal, hidup seseorang tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu, melainkan 'dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah' (Mat 4: 4).

Perumpamaan yang disampaikan Yesus amat menarik. Setiap orang bebas untuk mencari kekayaan, tetapi hendaknya tidak berhenti pada cara pencarian dan hasil usaha yang telah diperolehnya. Hendaknya kita semakin mengerti bahwasannya harta benda hanya cukup dinikmati dalam perjalanan hidup di dunia ini, tetapi sama sekali tak mampu membekali dan mengantar untuk tinggal dalam kemah abadi yang dikehendaki oleh setiap. Kiranya hidup tidak dikuasai oleh harta benda yang kita miliki, malahan sebaliknya kita harus berani dan cukuplah menggunakan harta benda itu dalam menjalin relasi persahabatan dengan sesama, sehingga apabila harta itu tidak dapat menolong lagi, kita diterima di dalam kemah abadi (Luk 16: 9). Hendaknya kita berani menikmati harta semampu mungkin, sembari berusaha menjadi orang kaya di hadapan Allah.

 

 

 

Oratio :     

Ya Yesus, ajarilah kami menjadi orang-orang yang kaya di hadapanMu, agar kami kelak boleh menikmati tempat kedimanaMu yang kudus,  Amin.




Contemplatio :           

'Hendaknya kamu menjadi orang kaya di hadapan Allah'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Biasa XVIII, 7 Agustus 2017

Selasa XXX, 26 Oktober 2010