Senin dalam Pekan Biasa XXVII, 7 Oktober 2013


Yun 1: 1-17  +  Mzm   +  Luk 10: 25-37






Lectio :

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

 

 

Meditatio :

'Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?'.

Inilah pertanyaan ahli-ahli Taurat kepada Yesus, yang hanya dimaksudkan untuk menjebakNya. Mereka hendak menjebak Yesus, karena  memang mereka sudah pasti tahu apa yang harus dilakukan untuk menikmati keselamatan. Mereka adalah orang-orang yang pandai dan cerdik dalam bidang kitab suci. Kitab suci adalah makanan mereka sehari-hari, tetapi bukan untuk dinikmatinya, melainkan sekedar menjadi pengetahuan diri. Mereka mempelajari kitab suci, tetapi ketika Dia yang diceritakan oleh kitab suci datang, mereka tidak mengenalNya, malahan ada yang mengenal tetapi menolakNya. Ahli-ahli Taurat adalah orang-oranag yang munafik.

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri', sahut mereka sendiri, ketika Yesus balik bertanya kepada mereka. Sekali lagi memang mereka sudah tahu apa yang mereka persoalkan, mereka bertanya hanya ingin menjebak dan menjerat Yesus. Cinta kasih akan membuat seseorang mampu menikmati Kerajaan Surga, mampu masuk dalam keabadian bersama Allah dan para KudusNya. Sebab Allah itu adalah kasih.

Apakah perlawanan Yunus terhadap kehendak Tuhan (Yun 1) juga sebagai keengganan menolak keselamatan yang berasal dari Tuhan? Apakah keengganan Yunus juga menyatakan ketidakmautahuannya terhadap nasib sesamanya?

'Siapakah sesamaku manusia?',  tanya ahli-ahli Taurat untuk membenarkan dirinya. Egoisme diri mereka tonjolkan, dan tidak mau dikalahkan.

Menjawab pertanyaan itu, Yesus menyampaikan perumpamaan kepada mereka, kataNya: 'ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan, demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu. Namun datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya:rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali'.

'Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?', tanya Yesus kepada mereka semua. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya amat merendahkan orang-orang yang mempunyai jabatan dan pengetahuan, tetapi tidak mau melakukan yang sesuai dengan panggilan mereka, termasuk mereka ahli-ahli Taurat. Orang-orang dalam perumpamaan itu, seperti seorang imam atau Lewi, adalah manusia-manusia ciptaan Tuhan, tetapi tidak mengenal sang Pencipta yang hadir dalam diri sesama. Yesus memang secara sengaja membalik pernyataanNya. Yesus tidak bertanya: siapakah yang berani memandang orang yang terkapar itu sebagai sesama mereka, melainkan siapakah sesama bagi orang yang menderita itu.

'Pergilah, dan perbuatlah demikian!', tegas Yesus. Jadilah sesama bagi orang lain, bukan mereka yang ada di sana, melainkan mereka yang ada di sekitar kita, mereka yang langsung kita temui sekarang ini, dan bukannya mereka yang dulu pernah kita temui atau mereka yang kelak akan kita jumpai.

 

 

Oratio :    

Tuhan Yesus, Engkau hadir dalam diri sesama kami di mana pun mereka berada. Ajarilah kami berani menemui Engkau dan melemparkan senyum kasih kepadaMu. Ingatkanlah kami selalu, ya Tuhan, sebab tak jarang kami lupa akan kehadiranMu, atau kami menyapaMu dalam diri mereka yang kami maui, walau termasuk mereka yang mungkin miskin dan melarat.  Amin.

 

 

Contemplatio :

'Siapakah sesamaku manusia?'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Biasa XVIII, 7 Agustus 2017

Selasa XXX, 26 Oktober 2010