Kamis Pekan Biasa XXXI, 7 Nopember 2013


Rom 14: 7-12  +  Mzm 27  +  Luk 15: 1-10

 

 


 

Lectio :

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.  Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."  Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:  "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?  Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,  dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.  Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.  Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.  Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."

 

 

Meditatio :

'Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka', gerutu orang-orang Farisi, yang memang dengan mata kepala sendiri,  melihat para pendosa dan pemungut cukai datang kepada Yesus dan mendengarkan Dia; dan Guru dari Nazaret itu pun, bukannya menolak mereka, malahan menyambut  mereka dalam keramahan hati yang menyenangkan. Mengapa sang Guru membiarkan mereka datang inilah yang tidak bisa mereka mengerti. Seorang Guru yang mengajak kebaikan, malahan menerima orang-orang berdosa. Kegelisahan kaum Farisi amat bisa dipahami dalam jamannya.

'Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?', tegas Yesus menanggapi keluhan mereka semua. Tidak seorang pun ingin kehilangan harta miliknya. Tidak seorang pun membiarkan harta bendanya dicuri orang. Kalau gembala dan perempuan itu merasa gembira dan bahagia, karena telah berusaha mencari dan akhirnya menemukannya, demikianlah Yesus yang menemukan kembali umatNya yang telah tersesat hilang kembali kepadaNya. Dalam  peristiwa datangnya orang-orang berdosa dan para pemungut cukai ini, bukannya Yesus yang mencari mereka, malahan mereka sendiri berani datang  untuk mendengarkanNya, tentunya mereka harus disambut dengan penuh gembira; dan itu sungguh nyata bahwasannya akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.

Apakah kedatangan para pendosa kepada Yesus boleh disebut pertangungan jawab mereka akan sikap hidup yang mereka lakukan selama ini, sebagaimana dikatakan Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma, bahwasannya 'setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah' (14: 12)? Boleh dan memang benar. Pertobatan adalah sebuah pertanggungan jawab seseorang akan hidup yang dijalaninya selama ini. Dia kembali kepada Allah, karena dia menyadari sungguh bahwa hanya dalam Allah setiap orang beroleh kehidupan. Pertanggungan jawab bukanlah sebuah laporan kerja, melainkan sebuah pengembalian diri seseorang bahwa dirinya adalah milik Allah dan harus dikembalikan kepada Allah (Mat 22: 21).

 

 

Collatio :

          Kiranya Injil mengajak kita untuk tidak mudah gelisah kalau melihat orang lain yang bertindak tidak sesuai dengan gambaran dan kemauan kita. Kita harus berani bertanya dan bertanya mengapa dia bersikap dan bertindak demikian? Kiranya malahan lebih tepat kalau kita mendoakan dia: 'ya Tuhan Yesus, terangilah dia dengan Roh KudusMu selalu, agar apa yang dilakukannya sesuai dan kembali kepadaMu'. Kemudahan kita menggerutu dan mengecam seseorang yang bertindak tidak sesaui dengan kemauan diri kita, malahan akan menjatuhkan kita pada kepribadian kaku, yang tidak berani belajar tentang kehidupan yang tidak sebatas alam pikiran diri sendiri.

          Sekaligus, hari ini kita diajak untuk berani menerima pertobatan diri setiap orang, sembari bertanya apakah kita juga berani bertobat seperti dia. Ketidakmauan kita menerima pertobatan seseorang karena kita sendiri memang tengah jatuh dalam dosa yang sama. Kalau Allah sang Empunya kehidupan membuka tanganNya lebar-lebar akan pertobatan umatNya, mengapa kita tidak berani memahaminya? Bukankah Allah lebih berkuasa, lebih murah hati dan bahkan lebih pandai dari kita dalam menanggapi kehidupan ini, mengapa kita berkeras hati?




Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur untuk kasihMu yang begitu besar,  yang tidak membiarkan kami hilang dari pandanganMu. Berikanlah keterbukaan dan kepekaan hati pada kami untuk dapat mendengarkan suara kasihMu.   Amin





Contemplatio :

'Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?'

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening