Kamis Pekan Biasa XXXIII, 21 November 2013


Mak 2: 15-28  +  Mzm 50  +  Luk 19: 41-44

 

 

Lectio :

Ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."

 

 

Meditatio :

'Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!. Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu', tegas Yesus sambil memandang Yerusalem kora raja Daud, kota yang megah itu. Yesus meratapinya, karena dia tidak mengerti bagaimana menikmati damai sejahtera; minimal di hari-hari terakhir bagi Dia sang Anak Daud, tidak dimengertinya juga. Ketiadaan rasa damai itu akan terwujud pada 'datangnya hari, bahwa musuh-musuh akan mengelilingi Yerusalem dengan kubu, lalu mengepung dan menghimpitnya dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan kota beserta dengan penduduknya, dan pada temboknya mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain'. Yerusalem akan hancur dan hancur. Semuanya akan terjadi, karena Yerusalem 'tidak mengetahui saat, bilamana Allah datang melawatnya'.

Apakah hanya terjadi pada Yerusalem? Bagaimana dengan kota-kota dan daerah-daerah lain, seperti Betlehem, Nazaret, Galilea dan Kapernaum? Bagaimana denga kota kita? Bagaimana dengan kita sendiri? Ke-tidak-mau-tahu-an menyambut kehadiranNya memang mengarahkan seseorang kepada kebinasaan, karena dalam Dia hanya ada keselamatan; walau tak dapat disangkal menikmati kehadiranNya tidak selalu harus berada dalam bait Allah, melainkan harus berhadapan dengan hidup konkrit, bahkan keadaan yang penuh badai, sebagaimana dialami oleh Matatias dalam berpegang pada hukum Taurat (Mak 2: 15-28), dan itulah juga yang dialami oleh Maria. Maria mampu menerima kehadiran Allah,  karena memang semenjak kecil dia telah dipersembahkan oleh kedua orangtuanya kepada Tuhan sang Empunya kehidupan. Maria yang telah dipersembahkan kepada Allah memungkinkan dirinya menjadi kenisah bagi Yesus Tuhan yang hadir dalam diriNya.

 

 

 

 

Oratio :

         

Ya Yesus Kristus,  bantulah kami agar kuat dalam menghadapi badai dan tantangan dalam hidup kami masing-masing, serta tetap setia di dalamnya untuk menyambut kehadiranMu.  Amin






Contemplatio :

 

'Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!'.

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening