Rabu Pekan Biasa XXXI, 6 November 2013


Rom 13: 8-10  +  Mzm 112  +  Luk 14: 25-33

 

 

 

Lectio :

Suatu hari  banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:  'jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,  sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.  Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?  Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.  Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku'.

 

 

 

Meditatio :

'Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku', tegas Yesus. Penyataan Yesus ini terasa amat berat dan amat menantang. Sebab kita harus menomerduakan semua orang yang bukan Tuhan, termasuk bapa atau, ibunya, isteri atau suami dan anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri. Tuhan Yesus harus diutamakan di atas segala-galanya; termasuk di dalamnya adalah segala kegiatan kita yang tidak sesuai dengan kehendakNya, seperti yang dilakukan Marta walau dimaksudkan sesuai dengan kemauan baiknya (Luk 10).  

Yesus berkata demikian, bukannya Dia tidak memikirkan kepentingan umatNya, tapi itulah yang memang harus disadari oleh semua orang yang menginginkan keselamatan hidup. Menomersatukan Tuhan itu tidak ubahnya memanggul salib, suatu sikap hidup yang berat menantang dan tidak membawa sukacita dan sorak sorai. 'Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'.  Mengikuti Yesus adalah suatu kemauan diri untuk hidup lebih baik, kemauan untuk berusaha dan berusaha, untuk mendapatkan sesuatu yang indah, tak ubahnya seseorang yang  mau mendirikan sebuah  menara harus duduk dahulu membuat anggaran biayanya,  atau raja yang  mau pergi berperang melawan raja lain, dia juga harus duduk dahulu mempertimbangkan kekuatan diri dan lawannya.

Membenci atau menomerduakan yang lain itu berarti melepaskan diri  dari segala yang bukan Tuhan, sebab memang 'barangsiapa  yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku'.




Collatio :

         

Bukankah  kita harus saling mengasihi sebagaimana dikehendaki oleh Yesus, dan juga sebagaimana ditegaskan Paulus dalam bacaan pertama hari ini kepada umat di Roma (13: 8-10)? Benar memang kita harus saling mengasihi, tetapi kiranya kasih kita terhadap sesama haruslah sebagaimana yang dilakukan Yesus sendiri terhadap umatNya, agar kita pun mampu menemukan Dia sang Empunya kehidupan yang hadir dalam diri sesama. Jika kita berani berbagi kasih hanya sebatas pengalaman insani kita,  tidak ubahnya kita melakukan segala sesuatu sebatas permintaan hukum Taurat; sebaliknya kalau kita mengasihi sesama sebagaimana Kristus mengasihi dan menyelamatkan kita, kita akan beroleh berkatNya, sebagaimana kita renungkan beberapa hari lalu: kita akan mendapatkan rahmat kebangkitan sebagaimana dinikmati oleh orang-orang benar. Mengasihi sesama sebagaimana yang dilakukan Kristus terhadap kita berarti menempatkan Dia sang Empunya kehidupan itu sebagai nilai utama dalam hidup kita.

 

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk mengasihi Engkau lebih sungguh, bukan karena kemampuan yang kami miliki, tapi karena kami sungguh-sungguh ingin membagi kasih yang tulus kepada mereka yang kurang dan membutuhkan kami.    Amin





Contemplatio :

'Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'.



 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018