Rabu Pekan Biasa XXXII, 13 November 2013

Keb 6: 1-11  +  Mzm 82  +  Luk 17: 11-19

 

 

 

Lectio :

Suatu hari dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.  Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh  dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

 

 

Meditatio :

'Yesus, Guru, kasihanilah kami!', teriak orang-orang kusta yang berdiri agak jauh. Mereka tidak berani mendekat, karena memang ada peraturan keras yang melarang mereka mendekatkan diri dalam kerumunan banyak orang. Mereka memohon belaskasihan. Apakah yang dimaksudkan dengan belaskasihan itu adalah kesembuhan? Pasti. Mungkinkah mereka meminta kekayaan? Mungkinkah mereka meminta makanan?

'Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam',  sahut Yesus kepada mereka. Yesus tidak menyembuhkan mereka tetapi menyuruh mereka menjumpai para imam. Bukankah mereka masih dalam keadaan sakit? Kenapa mereka juga mau saja disuruh menghadap para imam, padahal mereka dalam keadaan sakit? Sepertinya Yesus sudah mempunyai rencana. Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Yesus tidak mengatakan, tetapi menyatakan bahwa memang mereka akan disembuhkan; dan itulah yang terjadi dalam perjalanan mereka.

Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring. Kepekaan iman dimiliki oleh salah satu dari mereka. Kesembuhan seperti ini hanya terjadi karena Yesus sang Guru. Dia memang tidak mengatakan kata-kata itu, tetapi Dia yang menyatakan dan menyembuhkan. Dia tidak ambil pusing dengan kewajiban untuk melaporkan diri, dia hanya merasakan bahwa semuanya ini terjadi hanya karena Yesus. Apakah karena dia seorang Samaria, maka menomerduakan kewajiban itu? Namun tak dapat disangkal sekarang ini dia disuruh oleh Seorang Yahudi yang dipercayainya. Tersungkurlah dia di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.

'Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?', kata Yesus kepada orang-orang yang ada di sekelilingNya. Dia memuji bahagia orang Samaria itu. ApakahYesus menyesalkan kesembilan orang lain? Tidakkah Dia sendiri yang meminta mereka melaporkan kepada para imam? Apakah Yesus memang secara sengaja menanyakan iman umatNya: siapakah yang harus didahulukan dalam hidup ini? Bukankah apa yang menjadi hak Tuhan harus diberikan kepada Tuhan, dan yang menjadi hak imam harus diberikan kepadanya? Sejauhmana mereka berani memilih bagian terbaik yang tak dapat diambil dari mereka?

'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Kembali kepada Yesus dan bersyukur kepadaNya adalah peristiwa iman, dan itulah yang dialami oleh orang Samaria itu. Iman menyelamatkan orang itu, sebab dia bukan saja mendapatkan kesembuhan tetapi juga keselamatan.

 

 

 

 

Collatio:

       

          Dalam kitab Kebijaksanaan 6: 2-11 ditegaskan peranan raja yang bertanggungjawab atas rakyatnya. Raja ditantang untuk semakin berani bertangungjawab, dibanding para bawahannya, karena memang mereka dalam kuasa sang raja. Raja harus bertanggungjawab kepada sang Empunya kehidupan, karena Dia yang memberi kuasa mulia itu. Semakin besar pemberian sang Penguasa hidup, semakin besar tanggungjawab yang kita berikan kepadaNya.

Apakah sikap orang Samaria yang berbalik tersungkur kepada Yesus adalah ungkapan pertanggunganjawabnya kepada Dia yang telah menyembuhkan? Dia telah memberi, terpujilah Dia. 'Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut' (Luk 12: 48). Adakah sangsi yang diberikan kepada kesembilan orang yang sudah mendapatkan kesembuhan? Adakah hukuman bagi orang-orang yang tidak tahu terima kasih? Ucapan syukur memang menenteramkan jiwa, karena memang meringankan seseorang dalam mempertangungjawabkan hidupnya di hadapan Tuhan.

 

 

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus,  bantulah kami yang lemah ini agar menyadari bahwa apa yang terjadi semuanya adalah campur tangan dan karena kasihMu yang mendatangkan keselamatan bagi kami. Mampukan kami untuk dapat bersyukur selalu tidak hanya di bibir tetapi dalam wujud nyata dan menjadi saluran berkat bagi sesama.  Amin



 

 

Contemplatio :

'Ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya'







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening