Sabtu Pekan Biasa XXXII, 16 November 2013


Keb 18: 14-16  +  Mzm 105  +  Luk 18: 1-8

 

 

 

Lectio :

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya : "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata : Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian dia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku."

Kata Tuhan : "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?  Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"



 

 

Meditatio :

'Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!', tegas Yesus menegaskan perumpamaan yang disampaikanNya. Kalau hakim jahat saja mau memberikan yang diminta sang janda yang terus menerus merengek-rengek, apalagi Allah yang Mahakasih. 'Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Ia akan segera membenarkan mereka', sambung Yesus.

Namun kiranya tak dapat disangkal memang masih banyak orang yang memprotes kemurahan dan kesetiaan Allah dalam mengabulkan permohonan umatNya. Sebab di satu pihak, Yesus menegaskan adakah Dia mengulur-ulur waktu, tetapi kenyataannya Allah kita adalah Allah yang lamban dalam menjawab permohonan orang-orang yang dikasihiNya; malahan tak jarang berkat kemurahan hatinya Dia menyamakan mereka yang masuk terakhir dan hanya bekerja satu jam dengan mereka yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari (Mat 20: 12-15). Allah akan membenarkan dan mendengarkan setiap orang selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.  

Keluhan umatNya sepertinya juga sudah diantisipasi oleh Yesus sendiri dengan mengatakan: 'jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?'. Apakah Yesus menyadari kelambanan diriNya dalam menjawabi permohonan orang-orang yang memerlukan pertolonganNya, sebab tak sedikit mereka yang meminta itu adalah orang-orang yang sudah terjatuh masih tertimpa tangga lagi? Apakah Yesus memang selalu menguji kesabaran dan kesetiaan umatNya? Sampai berapa lama Tuhan, sampai berapa lama?

 

 

Collatio:

'Sementara sunyi senyap meliputi segala sesuatu dan malam dalam peredarannya yang cepat sudah mencapai separuhnya, maka firman-Mu yang mahakuasa laksana pejuang yang garang melompat dari dalam sorga, dari atas takhta kerajaan ke tengah tanah yang celaka. Bagaikan pedang yang tajam dibawanya perintah-Mu yang lurus, dan berdiri tegak diisinya semuanya dengan maut; ia sungguh menjamah langit sambil berdiri di bumi'  (Keb 18: 14-16). Penyataan kitab Kebijaksanaan sungguh-sungguh menggambarkan kecekatan dan kelincahan Tuhan dalam melaksanakan kehendakNya. Dia tidak berpikir tentang waktu, malam hari pun Dia bertindak dan bertindak.

Dia gesit dan lincah, tetapi mengapa Dia lamban dalam menjawab kemauan umatNya? Apakah memang Tuhan itu begitu gesit dalam melaksakanan kehendakNya, tetapi lamban dalam menjawabi kemauan umatNya? Bila memang begitu, mengapa dibedakan? Bukankah semuanya itu demi kebahagiaan umatNya sendiri? Bukankah Dia menghendaki keselamatan bagi setiap orang?

Namun apakah malam menunjukkan malam yang sesungguhnya? Apakah malam menyatakan situasi yang hening, dan bukan keramaian,di mana saat itulah kehadiranNya dapat dinikmati oleh setiap orang secara lebih nyata? Atau memang malam menunjukkan ketidakberdayaan dan kelemahan umatNya, sebab bukankah kekuatan insani setiap orang berada dibawah nilai optimal?

 

 

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus,  mampukan kami yang lemah ini, agar senantiasa tidak jemu-jemu dalam hidup doa dan beriman kepadaMu, serta tidak berputus asa dan tetap berpengharapan dalam setiap kesulitan karena Engkau adalah Allah yang setia.  Amin




 

Contemplatio :

 

'Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?'.

 

 

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening