Sabtu Pekan Biasa XXXIII, 23 November 2013


Mak 6: 1-13  +  Mzm 9  +  Luk 20: 27-40

 

 

Lectio :

Suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."

Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."

Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

 

 

Meditatio :

'Guru, jawab-Mu itu tepat sekali',  sahut para ahli Taurat kepada Yesus yang menjelaskan tentang kebangkitan. Sepertinya baru kali ini para ahli kitab ini membela dan membenarkan Yesus. Sejauhmana mereka mengerti sungguh tentang segala penyataan Yesus? Atau malahan mereka membenarkan Yesus, karena mereka merasa mendapatkan dukungan dari Yesus yang mengajarkan kebangkitan, dan bahwasannya keyakinan mereka akan kebangkitan itu sunggguh benar, dan ketidakpercayaan akan kebangkitan itu adalah sesat?

Perdebatan memang diawali ketika beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan, bertanya tentang kebangkitan dengan mengambil contoh: jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Bagaimana bila ada ketujuh laki-laki bersaudara yang secara berurutan memperisteri seorang perempuan, karena  mereka masing-masing mati tanpa memberikan keturunan kepada perempuan itu? Siapakah  di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan, sebab ketujuhnya telah pernah beristerikan dia?

'Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan', tegas Yesus. Situasi berbeda. Semuanya bisa terjadi, 'karena mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan'. Kodrat mereka sudah berubah, karena kebangkitan. Mereka, kita semua kelak, tidak lagi terikat tubuh insani yang dikuasai oleh aneka kecenderungan daging (Rom 8). Kita bebas dari aneka keinginan ini dan itu, dan aneka kecenderungan lainnya. 'Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub'. Semua harus dibangkitkan dari kuasa kematian, karena memang 'Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup'.  Allah menghendaki agar setiap orang tidak hilang dan binasa, melainkan hidup kekal. Itulah yang memang pernah ditegaskan Yesus sendiri: 'Aku ingin di mana pun Aku berada, kamu pun ada' (Yoh 14).

 

 

 

 

Oratio :

         

Ya Yesus Kristus, biarlah kamipun semakin menyadari bahwa kehidupan ini tidak hanya untuk hal-hal duniawi yang terikat ruang dan waktu, tetapi lebih untuk kehidupan surgawi kelak bersama Engkau.  Amin





Contemplatio :

 

'Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup'.



 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening