Selasa Pekan Biasa XXXI, 5 November 2013


Rom 12: 5-16  +  Mzm 131  +  Luk 14: 15-24

 


 

 

Lectio :

Suatu hari  berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."  Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.  Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.  Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan.  Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.  Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.  Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.  Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat.  Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.  Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku."

 

 

 

Meditatio :

'Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah', kata seseorang yang memberikan komentar terhadap penyataan Yesus agar berani mengundang saudara dan saudari kita yang tidak mampu supaya mendapatkan balasan di akhir jaman dalam kebangkitan orang-orang  benar. Diundang dalam pesta perkawinan saja sungguh menyenangkan, apalagi diundang dalam pesta perjamuan di surga. Sungguh membahagiakan diajak ikutserta dalam perjamuan surgawi.

Memang benar, berbahagialah orang-orang yang diundang dalam Kerajaan Allah, namun  Yesus yang tahu akan kenyataan hidup umatNya mengatakan sebuah kenyataan dengan mengatakannya dalam perumpamaan ini.  'Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.  Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: marilah, sebab segala sesuatu sudah siap'. Sudah diundang, sang tuan rumah masih mengingatkan para undangan bahwasannya pesta telah tersedia.  'Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf.  Sebab ada  baru membeli ladang, maka harus pergi melihatnya, ada yang baru  membeli lima pasang lembu kebiri, maka harus pergi mencobanya; ada yang baru saja kawin'. Semua undangan tidak bisa memenuhi kemauan baik sang tuan rumah.

'Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh, bila perlu paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh', tegas sang empunya pesta. Suatu penegasan bahwa Allah menghendaki agar semua orang beroleh selamat. Allah tidak menghendaki satu orang pun binasa. Allah telah menciptakan segala, maka Allah yang satu dan penuh kuasa itu mengasihi seluruh umatNya dan menghendaki semuanya beroleh selamat, sebagaimana kita renungkan hari Minggu kemarin (bdk, Keb 11). Keistimewaan bangsa terpilih, sebagi umatNya yang kudus sekan-akan tidak dikenakan lagi bagi orang-orang yang memang tidak mau mendengarkan sapaan dan undangan untuk datang dalam perjamuan bersamaNya. 'Aku berkata kepadamu: tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku'.

Apakah keistimewaan sebagai anak-anak juga akan diabaikan jika kita tidak mendengarkan sapaaan dan undanganNya? Kalau mau kita telisik dari alasan  para undangan yang menolak, sebenarnya tidak alasan yang mendasar untuk tidak menanggapi panggilan dan undanganNya. Hanya soal kemauan; karena memang aneka kegiatan yang disampaikan tadi sebenarnya masih dapat ditunda dan diundur pelaksanaanNya. Kiranya pengalaman Marta dan Maria juga menjadi permenungan bagi kita, agar kita berani memilih yang terbaik yang memang tidak ada kuasa yang dapat mengambil daripadanya (Luk 10: 42). Kiranya kesatuan hati kita sebagai satu komunitas yang saling melengkapi dan menyempurnakan kita akan memampukan kita memenuhi undanganNya yang kudus, karena dengan kesatuan hati sebagai komunitas, sebagaimana dikatakan dalam surat Paulus kepada umat di Roma (bab 12), kita dapat membantu dan menyelesaikan persoalan sesama. Ada kesulitan sebuah keluarga dapat dilengkapi dan ditutupi oleh keluarga lain, karena memang kita saling meneguhkan satu dengan lainnya.




Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus, ampuni kami yang juga seringkali sombong; mampukan kami agar kami semakin mempunyai hati yang peka dalam menanggapi undanganMu. Dan berikanlah kami  kesatuan hati yang saling meneguhkan dalam lingkungan dan komunitas hidup kami.  Amin





Contemplatio :

'Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010