Senin Pekan Biasa XXXI, 4 Nopember 2013

Senin Pekan Biasa XXXI

4 Nopember 2013

Rom 11: 29-36  +  Mzm 69  +  Luk 14: 12-14

 

 

 

Lectio :

Suatu hari  Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.  Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.  Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

 

 

 

Meditatio :

'Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya; tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta, dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu, sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar'.

Permintaan Yesus memang secara sengaja dinyatakan secara tegas, agar kita melakukan segala sesuatu secara ikhlas dan rela, tanpa menantikan balasan apapun dari mereka yang kita layani, bahkan secara sengaja kita lakukan semuanya itu bagi orang-orang yang memang tidak mampu membalas.  Ungkapan hiperbolis ini tidak dimaksukan agar kita tidak mengundang salah seorang pun  teman yang kita kenal. Hendaknya kita hanya memberi dan memberi, dan tak ada yang lain. Inilah kasih yang memberi. Keberanian kita untuk selalu  memberi dan memberi  mendapatkan jaminan ilahi yang akan kita peroleh para hari kebangkitan orang-orang benar. Ini berarti kita digabungkan dan diperhitungkan dalam kalangan orang-orang benar dan kudus.

Apakah kita tidak boleh mengharapkan balasan dari mereka yang kita layani? Bukankah kita harus saling memperhatikan dan saling melayani, maka wajarlah kalau mereka yang kita undang  juga perlu membalas kebaikan kita? Kita memang perlu dan wajib saling mengasihi dan memperhatikan sebagai hidup bersama dalam komunitas, tetapi sebagai pribadi yang dipanggil untuk berbagi kasih. Dalam berbagi inilah kita diminta untuk tidak mengharapkan balasan, sebagaimana yang dilakukan Yesus Kristus sendiri dengan menyerahkan nyawa menjadi tebusan bagi sahabat-sahabatNya.  Jika kita mengharapkan balasan, padahal mereka tidak membalas kita, karena memang mereka tidak mampu berbagi kasih dengan sesama, maka kita akan lelah menanti dan menanti. Apalah arti sebuah penantian yang tidak memberikan sukacita? Lebih baik kita memberi dan memberi tanpa mengharapkan, atau pun bahkan memaksa mereka membalas kebaikan kita.

Kita berlatih dan berlatih untuk setia dalam memberi, karena kita pun ingin bersikap seperti Allah yang memberi dan memberi. Kesadaran Paulus akan keagungan Dia yang memberikan kehidupan dan hanya kepada Dia kita harus percaya dinyatakan dengan  suratnya kepada umat di Roma: 'O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!  Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?  Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?  Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!'  (11: 33-36). Kesadaran akan keagunganNya membuat kita semakin berani meneladan Dia.

 



Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus, Engkau sungguh luhur dan mulia. KeagunganMu mengatasi laut. Ajarilah kami semakin merundukkan diri di hadapanMu, dan kami akan ungkapkan semuanya itu dalam pergaulan dengan sesama. 

Santo Carolus, doakanlah kami.  Amin.

 



Contemplatio :

'Siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018