Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, 1 Januari 2014

Bil 6: 22-27  +  Gal 4: 4-7  +  Luk 2: 16-21

 

 

 

Lectio :

Malam itu pergilah para gembala cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.  Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.  Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

 

 

Meditatio :

Malam itu pergilah para gembala cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Itulah peristiwa sukacita, di mana para gembala menemukan Dia yang dikatakan oleh para malaikat. Mereka melihat seorang Bayi yang ada dalam sebuah palungan. Dia tidak sendirian. Dia ada bersama dengan kedua orangtuaNya, yakni Yusuf dan Maria. Mereka para gembala tahu siapa kedua orang yang ada di samping kiri dan kanan sang Bayi, karena tentunya mereka menemui kedua orangtua dari sang Bayi itu terlebih dahulu sebelum memandang sang Terang. Kedua orang itu pasti juga memperkenalkan diri bahwa mereka berdua adalah ayah dan ibu, orangtua dari sang Bayi yang baru lahir itu. Mereka pasti saling bertanya dan menjawab, karena memang mereka belum saling mengenal, terlebih Yusuf dan Maria begitu sensitive  dalam menjaga sang Bayi. Maria dan Yusuf tahu siapakah Bayi yang terbaring dalam palungan itu; Bayi ini adalah Anak Allah (Luk 1: 35).

Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Bagaimana dengan Yusuf, ketika para gembala itu memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu?  Dia juga tentunya heran dengan pengalaman para gembala itu. Sepertinya kabar sukacita yang diterima para gembala itu persis sama waktunya ketika sang Bayi itu dilahirkan. Hari ini telah lahir bagimu seorang Penyelamat dunia; bukan kemarin atau minggu lalu, melainkan hari ini. Maria hanya merenungkan semua yang didengarnya tentang Anak itu. Dia tidak menyelidik. Maria hanya membuat sinkronisasi apa yang didengar oleh para gembala dengan kabar sukacita yang pernah didengarnya sendiri dari malaikat Gabriel. Semuanya tepat benar, dan semua indah pada waktunya. Karena memang yang dijanjikan malaikat, kini ada dalam pangkuan Maria; dan apa yang dikatakan para malaikat, dipandangnya sendiri oleh para gembala.

Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. Yusuf 'menamakan Anaknya itu Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka' (Mat 1: 21). Kedua orangtua sang Bayi tahu benar panggilan dan tugas  yang diembanNya kelak.

 

 

Collatio :

Gereja hari ini merayakan Maria Bunda Allah, karena memang dialah seorang perempuan yang mengandung dan melahirkan Yesus, yang adalah Anak Allah. Anak Allah secara sengaja mau menjadi manusia, berkat kerelaan dan keberanian seorang perawan Maria yang menanggapi sabdaNya dengan sigap. 'Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu'. Kesiagaan Maria menjadikan dia sebagai seorang ibu, karena Yesus telah tinggal dalam hatinya. Dia, yang masih perawan, dikandung tanpa dosa itu, menjadi seorang ibu, karena mengandung dari Roh Kudus. Hari ini juga Maria menjadi seorang ibu Allah, karena yang dilahirkan adalah seorang Allah yang menjadi manusia. Maria malah dikenal sebagai seorang ibu Yesus, Allah yang menyelamatkan, daripada isteri Yusuf, karena memang mereka berdua ambil bagian dalam karya penyelamatan Allah.

Maria Bunda Allah dirayakan Gereja di hari pertama dalam tahun baru, 1 Januari, karena memang sejarah baru dimulai dengan hadirnya Tuhan Allah secara nyata dalam setiap peristiwa hidup manusia. Dia yang adalah Allah mau dan rela mengikuti alur waktu dalam perkembangan jaman. Dia yang menguasai waktu, merundukkan diri dalam ruang waktu dengan menjadi manusia. Dia tidak terikat oleh ruang dan waktu, tetapi mau merelakan diri diikat oleh adanya waktu. Tahun Baru mengingatkan kita bahwa ada Allah di tengah-tengah kita. Kita tidak berjalan sendirian dalam perjalanan hidup ini. Ada Tuhan di tengah-tengah umatNya. Dia berdiri di barisan depan umat, sebagai sang Gembala yang menuntun dan menjaga kawanan domba-dombaNya.

Hari ini adalah Hari Perdamaian Dunia. Awal tahun mempunyai pengharapan penuh bahwa dunia harus damai, sebagaimana dikehendaki oleh Dia sang Pembawa damai yang tengah hadir di tengah-tengah umatNya. Dunia terasa damai dan sukacita bila memang dunia berani menerima kehadiran sang Penyelamat. Keluarga Yusuf dan Maria merasakan damai dan sukacita, karena mereka menerima kehadiranNya. Damai bukanlah komunitas orang-orang yang berpangku tangan, melainkan mereka yang sungguh-sungguh berjuang dalam kehidupan ini untuk membuat hidup lebih baik dan berkenan kepada Tuhan, yang semuanya ini akan  menurunkan rahmat dan berkat bagi setiap orang yang mengharapkannya.

 


 

Oratio :

Ya Yesus Kristus,  Engkau Pembawa damai, kiranya damai dan sukacitaMu senantiasa hadir ditengah-tengah keluarga kami, dan di tahun baru ini kami semakin menjadi pribadi yang lemah lembut dan rendah hati.  Amin





Contemplatio :  

'Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya'.

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening