Kamis dalam Pekan Biasa II, 23 Januari 2014

1Sam 18: 6-9  +  Mzm 56  +  Mrk 3: 7-12

 

 


Lectio :

Setelah menyembuhkan orang yang salah saatu tangannya lumpuh di hari Sabat, Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah." Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

 

 

Meditatio :

Setelah menyembuhkan orang yang salah satu tangannya lumpuh di hari Sabat, Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea, dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang dan mengikuti-Nya,  sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. Kita dapat membayangkan kerumunan orang yang begitu banyaknya mengikuti Yesus. Perkataan dan perbuatan Yesus menarik hati banyak orang. Dia mengajar dengan penuh kuasa dan wibawa.

Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Bagaimana memang Yesus dapat bergerak dengan bebas, kalau banyak orang berjubel mengerumuni Dia? Yesus yang terus menyembuhkan banyak orang, membuat semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. Bila Yesus berada dalam perahu, memang memungkinkan Dia mengajar dengan leluasa; dan itulah yang dikehendakiNya. Yesus tidak memasang spanduk KRK, tetapi banyak juga yang datang untuk mendapatkan kesembuhan. Bisa dibayangkan kalau  Yohanes Rasul dan Lukas menyempatkan diri memasang spanduk di Kapernaum.

Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: 'Engkaulah Anak Allah',  tetapi Yesus dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia. Kenapa Yesus melarang kuasa kegelapan berteriak seperti itu? Bukankah semua itu sebagai bentuk pewartaan terselubung? Apakah Yesus tidak mau mengambil keuntungan dari teriakan kuasa kegelapan? Apa dengan mengamini teriakan mereka dapat diartikan Yesus menerima keberadaan dan dukungan mereka?

Teriakan sukacita memang tak jarang bisa mendatangkan getah yang tidak mengenakkan. Yesus memang tidak memerlukan teriakan pengakuan sebagaimana dilambungkan oleh setan-setan kuasa kegelapan, karena memang Dia tidak mencari pujian. Pujian umatNya saja sama sekali tidak menambahi kemuliaanNya. Teriakan sukacita dari bangsa Israel yang bangga akan kepahlawanan Daud mengundang rasa irihati dan kemarahan dari raja Saul (1Sam 8). Kiranya pengalaman teriakan-teriakan ini memberi pembelajaran kita dalam melantunkannya, agar semua orang yang mendengarkan merasakan sukacita dan bukan sebaliknya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar semakin hari semakin bertekun dalam mendengarkan FirmanMu, sehingga kami dapat mengenal, mencari dan menjamah Engkau untuk memperoleh keselamatan kekal yang hanya berasal daripadaMu, dan kami juga dapat membagikannya pada orang lain, sehingga merekapun mengalami sukacitaMu.  Amin





Contemplatio:

 

'Yesus menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya.'









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening