Rabu dalam Pekan Biasa II, 22 Januari 2014

1Sam 17: 32-51  +  Mzm 144  +  Mrk 3: 1-6

 

 

Lectio :

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus masuk ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

 

 

Meditatio :

'Mari, berdirilah di tengah!', pinta Yesus kepada seseorang yang lumpuh salah satu tangannya. Orang itu pun berdiri, dan secara sengaja Yesus langsung menantang orang-orang yang mengerumuniNya: 'manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?'. Yesus secara sengaja menantang orang-orang yang memang mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Yesus menanggapi sikap mereka dengan suatu penyataan yang memang menantang setiap orang untuk berani mengubah sikap hidupnya, bukan soal pengertian atau pemahaman, melainkan perubahan sikap hidup.

Mendengar tantanganNya, mereka semua itu diam saja. Mereka tidak bisa menjawab, tak mampu berkomentar, karena memang mereka tidak siap berkata-kata. Mereka hanya ingin mencari kesalahan orang lain. Keluasan dunia mereka perkecil dengan pikiran dan nalar mereka sendiri. Mereka melihat dunia sebatas melihat diri sendiri. Mereka melihat dunia, melihat sesamanya yang ada di sekitar mereka, sebatas diri mereka sendiri. Mereka membatasi orang lain dengan dirinya sendiri. Yesus berdukacita karena kedegilan mereka; mengapa mereka bersikap demikian. Mereka tidak mampu melihat segala kebaikan dan karya Allah selain yang terjadi pada diri mereka sendiri. Mereka tidak mau tahu bila Allah berkarya dalam diri setiap ciptaanNya.

'Ulurkanlah tanganmu!', kata Yesus kepada orang yang lumpuh sebelah tangannya itu; dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Segala-galanya terjadi secara indah pada waktunya. Keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia. Amat disayangkan memang, mengapa mereka tidak mau memandang dan mengakui bahwa Allah mampu berkarya dalam diri setiap orang? Mengapa banyak orang membelenggu sesamanya dengan pandangan dan pendapat diri sendiri.

Sebaliknya, dalam berbagi kasih hendaknya kita tidak perlu kuatir dan gelisah bila menghadapi tantangan, yang memang sengaja mau menghambat dan menggagalkan. Sebagaimana Yesus harus berani menghadapi imam-imam kepala, dan orang-orang Farisi yang menduduki kursi Musa, dan juga ketaatan social religi, sebagaimana terpatok dalam aturan hari Sabat, hendaknya kita tidak terhalang untuk berbagi kasih bila memang ada orang yang terkapar dan membutuhkan uluran tangan kasih kita. Ancaman keselamatan jiwa tidak membuat kuatir Yesus untuk berbagi kasih bersama dia yang lumpuh tangannya dan menjerit minta tolong.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kami sadar bahwa kamipun Engkau panggil untuk berbuat baik pada siapapun, kapan dan di manapun, ketika orang-orang membutuhkan kami. Bantulah agar kami berani dan tidak takut dinilai ataupun menghadapi tantangan dalam berbuat baik atas dasar ketulusan hati.  Amin





Contemplatio:

 

'Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?'

 

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening